Sebuah Kata, “Kenapa Waktu Cepat Sekali Berlalu”

Sebuah Kata,

“Kenapa Waktu Cepat Sekali Berlalu?”

Ya, itulah sebuah kata yang gua lontarkan kepada seorang sahabat saya di puncak akhir Juli 2009 kemarin. sambil menunggu mata terpejam di tengah subuh & dinginnya udara puncak.
“Elo merasa seperti itu juga?” kata gua,
“Ya”, katanya “Menurut agama gua, waktu yang terasa cepat itu artinya sudah mau kiamat, Wa.” lanjutnya.

Kata-kata itu sempat menjadi pikiran gua beberapa saat mengenai waktu yang cepat. Setelah gua menyelsaikan pendidikan di SMA, lalu melanjutkan kuliah, bermain-main dengan pekerjaan dan sebagainya semua terasa sangat cepat, entah kenapa. Tak gua sadari sekarang sudah tanggal 2 September 2009. Beberapa bulan lalu –yang gua rasa seperti hari kemarin– seputar tanggal ini adalah tanggal petaka gua harus membuang umur 1 taun lagi. Suatu pemikiran yang menakutkan buat gua.

Ada informasi, waktu berjalan sangat lambat ketika seseorang tidak menikmati kondisi, atau baru beradaptas akan suatu kondisi. Misalnya melewati jalan yang baru atau bahkan elo baru beradaptasi karena tinggal di suatu daerah. Ya, teori tersebut memang benar. Tak salah. Tapi disisi lain juga ada faktor lain.

Nah… SMA… Gua seneng. Kuliah.. Hhm.. not bad walau tidak seheboh SMA. Kerja… Menyenangkan juga koq… Tapi kenapa gua merasa waktu berjalan semakin cepat? Mau Kiamat-kah?

Hari ini gua berselancar ke internet dan tidak sengaja menemukan situs milik program TV “Kick Andy”. Didalamnya terdapat sebuah postingan dari Veronica Colodam, seorang teman dari Andi F. Noya (dan seorang jurnalis) yang menulis sebuah artikel seperti ini:

Ketika seorang wartawan meminta Einstein menjelaskan konsep relativitas waktu dalam bahasa awam, Einstein mengatakan, “satu jam bersama seorang gadis cantik bisa terasa lebih pendek dari satu menit duduk di atas tungku api.” Jika direnungkan, tampaknya kita juga sering merasakan hal yang sama dalam konteks yang berbeda.

Apalagi ketika semakin kita berumur, waktu terasa semakin cepat waktu berlalu. Lamanya satu detik, satu menit, satu jam dan satu hari sebenarnya sama saja. Namun mengapa – setidaknya bagi saya pribadi – kita merasa waktu cepat sekali habis dan sekonyong-konyong kitapun tiba di penghujung tahun 2008.

Menurut kawan saya ini terjadi karena cara kerja otak kita dalam memroses informasi yang masuk. Semakin tinggi rutinitas yang kita jalani, semakin cepat rasanya waktu berlalu. Hal ini terjadi karena otak kita tidak lagi perlu melalui proses pembelajaran yang rumit. Semakin terbiasa kita dengan lingkungan, situasi bahkan hidup kita sendiri, semakin cepat waktu seakan-akan berlalu.

Sebaliknya, jika kita berada pada sebuah situasi baru, lingkungan baru, maka waktu terasa bergerak sangat lamban. Berada di tempat baru, melakukan aktitifas baru menuntut sebuah proses pembelajaran. Waktupun menjadi relatif terasa lebih lama. Saya teringat ketika dulu belajar kimia. Dengan segala kmpleksitas yang ada, kelas terasa tidak selesai-selesai. Namun sebaliknya, bisa juga satu hari bertamasya atau berbelanja ke mal akan terasa sangat singkat manakala kita tidak lagi harus memroses informasi baru.

sumber : http://www.kickandy.com/friends/?ar_id=MTM2Ng==

Lucu juga gua pikir tulisan itu. Dan satu kenyataan yan harus gua akui “gua memang tambah tua!”. Tulisan ini gua tulis bukan berarti gua inget bahwa besok (3 September 2009) adalah waktu 1 taun terbuangnya umur (jatah hidup) gua. Tapi suatu situasi yang pas ketika gua berselancar di dunia maya dan gua –seorang yang membenci waktu– membutuhkan jawaban tentang kewaktuan tersebut.

Ya, mungkin benar soal kiamat. Menurut gua kiamat itu memang milik masing-masing individu koq.

Tapi artinya. Hari ini, gua inget lagi pemikiran itu. Dan karena mengingat pemikiran itu pula, gua jadi berfikir lagi “Gua tambah tua!”. Tau enggak, waktu umur gua 15 tahun, gua berikir untuk menjadi tua, menjadi seseorang yang berumur 24 tahun. Karena gua berfikir bahwa pemikiran orang lain terhadap pengakuan seseorang dilihat dari umur.

Kenyataannya (bukannya pendapat gua diatas  salah), tapi ada f aktor lain. Faktor Umur berbanding apa yang sudah anda lakukan dan prestasi. Pada umur tua, jika elo berprestasi dan itu ditunjukkan kepada orang lain, tanggapan orang lain justru lebih hebat kepada orang yang berprestasi tersebut, “Gila! Umur 16 Tahun sudah bisa bikin ini-itu, dsb”, ketimbang seseorang yang berprestasi ketika sudah dewasa, tanggapan orang hanya akan “Oooh… berprestasi. Wajar lah, sudah tua, pendidikan & pengalamannya tinggi, dsb, dsb…”

, , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: