Bali Part One

ABGSAT! Dari tadi subuh gw berusaha ngedit tulisan dibawah ini, tp selalu kepentok sama suatu hal yg namanya KONEKSI TAE! Sialan…

Gila! Kayak bebas merdeka! Sendirian di hotel berkelas di budaya lain, pulau lain, mau ngapain aja BISA! Sakit!

Rekaman & Tulisan :

Pernah berfikir, kenapa gua menulis judul “Bali Part One”, bukan “Bali Bagian Satu”? Ya, inilah Bali.. Eh! Bukan. Kuta. Kabupaten para bule. Hehe…

Hari pertama di Bali, dihabiskan dengan ngobrol sama orang dan makan di restoran berkelas dan berharga mahal tanpa gua harus mengeluarkan uang sepeserpun. Hari ini gua jalan kaki keliling Denpasar, totally menghabiskan  waktu sekitar 5 jam. Kaki agak gempor dan lecet. Sakit. Hanya saja gua yang ingin menulis ini menyempatkan diri walaupun lelah sekali.

Hari ini keliling Denpasar malam-malam. Sebuah kota di Indonesia yang sudah 6 tahun tidak gua kunjungi. Masih ingat gua tempat-tempat yang pernah gua kunjungi sampai 6 tahun lalu ini. Kota yang memutuskan hubungan gua dengan pacar pertama gua dulu. Hehehe…

Gua pikir suatu saat Bali bakal tenggelam karena kebanyakan bangunan, orang, Bule dan perkembangan-perkembangan yang tidak manusiawi terjadi di pulau yang sangat suci ini. Ya, mungkin sebagian besar –kalo baca– sudah ditulis oleh Beni & Mice dalam buku mereka “Lost In Bali”. Detil sekali mereka mengenai apa saja yang ada di Bali. Bule bule dengan ‘barang’ yang ngelempreh kemana-mana (sayang, ketertarikan gua bukan pada orang bule), berjemur, atau bahkan berjamur. Orang-orang pantai yang hitam, jalan Legian yang tidak pernah mati, bahkan sesajen yang berserakan di jalan-jalan. Yang konon kalau sengaja diinjak, nanti kita bisa disamperin. hehe…

Ngg… Coba gua tulis Bali dari sudut pandang lain. Malam ini gua disuruh makan malam di hotel. Tapi menolak dan memilih untuk menghabiskan waktu senggang hari ini dengan berkeliling Denpasar diatas Pk. 19.30 WITA. Tak dinyana, sedikit berbeda dengan Jogja dan mirip dengan Solo, bahwa pada pukul segitu kegiatan masyarakat Bali sudah hampir tidak ada. Jalanan non-pariwisata sepi, gelap dan sedikit mencekam. Tapi ini Bali. Insyaallah masyarakat asli dengan kepercayaan yang masih sangat kental tersebut masih bisa mengendalikan diri untuk tidak berbuat kejahatan. Yang jadi masalah adalah para pendatangnya kan?!

Masih banyak dimana-mana terlihat orang memasang sesajen di depan rumah atau gedung kantor yang sudah tutup di altar mereka. Sambil menikmati sate madura di pinggir jalan (Rp. 7000 sudah sama aqua gelas 2) gua melihat berbagai macam hal. Mulai dari adanya angkringan ala Bali, andong, dan yang tetap menjadi ciri khas Indonesia, sepeda motor bebek ber-seliweran dimana-mana beberapa mobil dengan plat nomor berhuruf depan “DK”, pedagang kaki lima yang tampak diluar Kabupaten Kuta (di Kab. Kuta, pedagang gerobagan dilarang), beberapa plang dengan bahasa yang unik, lalu…

*intermezo, gua agak keganggu ama suara ngorok Pak Budi. Next!*

…pedagang pulsa operator telepon selular yang juga tampak jauh lebih banyak diluar Kabupaten Kuta. Sedikit kesimpulan, bahwa Bali sama halnya dengan kota-kota yang lain. Tidak seistimewa itu. Jika dulu ada wacana bahwa “Indonesia is Bali”, mungkin lebih spesifiknya “Kuta is Bali” (berarti Kuta is Indonesia donk!) Bukannya gua meremehkan  objek pariwisata lain, tapi bukankah Bali identik dengan Kuta? Tempat pertama yang diingat orang jika mendengar tentang Bali. Bali tidak lagi menjadi tempat pariwisata yang terkenal dengan keindahan alamnya. Keramah-tamahan penduduknya dan salah satu pulau yang memiliki ombak terbaik di dunia. Bali sendiri sudah terkontaminasi oleh manusia, pantai yang bukan dipenuhi dengan pasir putih melainkan manusia-manusia bule yang berjemur, serta ombak dan dasar laut yang berwarna agak kecoklatan. Mungkin ini adalah efek eksploitasi Bali setelah dijadikan salah satu biang sumber devisa negara. Jamur-jamur gedung, cafe serta club modern sudah merusak alam Bali yang 18 tahun lalu pertama kali gua singgahi. Gua masih ingat! Bahkan mungkin foto-foto tentang Bali yang kita lihat di kartu pos atau kalender, adalah foto tahun 90-an awal! Sekarang Bali tidak seperti itu!~ Sebuah tempat yang –gua ingat– tahun 2001 gua rekam sebagai tanah lapang dengan sapi-sapi bali warna coklat itu sekarang sudah disulap menjadi ruko, club, swalayan, restoran atau (mungkin) tempat prostitusi terselubung. Perjalanan diteruskan.

Tugu tragedi Legian. Menuju ke situ, gua bisa membayangkan apa yang gua lihat di televisi 9 September 2001 lalu. Jalan kecil 2 jalur yang hanya muat 1 mobil setiap lajurnya dengan foreground pohon-pohon sebagai pembatas jalan. Gua mungkin bisa sedikit membayangkan kondisi saat mobil pembawa bom tersebut melintas hingga Sari Club dan Paddy’s Cafe yang saat ini sudah menjadi tugu peringatan tragedi Bom Bali 1. Persis di depan Tugu Tragedi Legian ada sebuah gang. Gang nyempil yang tidak terduga bahwa itu adalah pusatnya segala kegiatan Bule. Gua melewati gang tersebut tadinya hanya untuk memotong jalan menuju pantai Kuta, menuju hotel. Tidak heran lokasi tersebut menjadi sasaran para orang-orang yang memang menjadikan bule sebagai sasaran tembak. Sasaran LEDAK mungkin ya lebih tepatnya… Lengkap dengan orang-orang lokal yang SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) kepada bule dengan modal kemampuan Bahasa Inggris. Mungkin dia orang yang menawarkan ya. Gak salah sih.

Tapi hanya setengah dari panjang gang tersebut yang dipenuhi oleh Bule. Sisanya hanyalah jalan gelap dengan lampu penerangan yang rusak, dan kanan kiri toko yang tutup. Ada beberapa orang seliweran disitu. Tapi tetap saja gua manusia dengan ras Mongoloid sendiri. Akhirnya tibalah di Jalan Pantai Kuta. Cukup senang karena yakin tidak akan tersasar lagi. Tapi di tengan jalan ada yang nawarin “Kang, kang.. Bule kang. Fresh!” sambil menunjuk-nunjuk ke suatu arah. Gua menolak, dia meneruskan “Kang, kalo Mushroom mau nggak?” sempat sedikit ‘tercolek’, tapi kemudian tetap menolak. Hehe…

Sampai hotel. Kaki pegal dan sekarang mulai terasa pegal seluruh badan. Hhm.. Istirahat dulu yaa! Sampai jumpa di tulisan gua selanjutnya : BESOK! Hehehe..

, , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: