Bali Part Three : Sosial

Hari ini agak membosankan. Kebanyakan bengong di kamar atau ketemu orang. Mau online laptop dimonopoli sama Pak Budi, kalaupun pergi, cuma ngobrol sama orang terus ke kamar lagi dan sebagainya. Pergipun ke Pantai Kuta, lalu meliput tenggelamnya matahari.

Tak ada yang istimewa hari ini, tapi inilah tulisan yang bias gua tulis :

Case 1 : “Tamu”
Bali, lagi-lagi Bali. Ya, tidak jarang kita mendengar istilah “Tamu” ketika berbicara dengan penduduk setempat. Di Pantai Kuta misalnya, kebetulan saya mengambil gambar dengan posisi yang tampak diam-diam (mojok di tembok dan nge-shoot). Kami disamperin oleh penduduk setempat yang biasa menjadi pengurus selancar ombak. Dia bilang, “Mas, kalo ngeshut (shoot –jaw) maju aja. Jangan ngumpet-ngumpet seperti ini, nanti dikira gimana sama tamu. Atau waktu pergi sama Pak Made di hari kedua kemarin ke Uluwatu, dia banyak menyebut istilah “Tamu”.

Pertanyaan gua, siapakah tamu itu?

Gua bertanya kepada beberapa dari mereka. Tadinya mereka menyatakan ‘tamu’ kepada orang-orang luar negeri. Tamu dari negeri seberang, begitu… Tapi ternyata tidak! Semua orang yang tidak tinggal di Bali (bukan penduduk asli Bali) dikatakan tamu oleh mereka.

Istilah tersebut belum pernah gua dengar di beberapa kota di pulau Jawa. Jogja, Bandung dan Solo misalnya. Tampaknya memang pengaruh hindu –dan budaya—cukup membuat orang Bali jauh lebih sopan daripada orang Jawa yang memiliki label ramah.

“Anda. Anda itu tamu” kata pak Made. Sebelum tahun 1995 mungkin memang mereka membedakan, berhubung tingkat turis mancanegara 300% lebih banyak ketimbang turis lokal (sumber : Depsos RI) sehingga penghormatan kepada turis lokal menjadi minim. Tapi berbeda dengan sekarang. Jumlah turis lokal kian banyak, hingga mendekati 50%. Alhasil untuk menarik pendapatan, para pengelola objek wisata mulai meningkatkan pelayanan kepada wisatawan lokal untuk meningkatkan pendapatan.

Sementara para pekerja objek wisata hampir 90% merupakan warga lokal Bali. Perlahan-lahan, keramahtamahan tersebut menjadi bertambah dan tidak pandang bulu, baik lokal maupun mancanegara.

Case 2 : Keamanan
Ini adalah cerita. Opini, gua tidak memiliki bukti dan data tentang hal ini. Menurut Pak Budi, tahun 1990 kita meninggalkan mobil di pinggir jalan dengan kunci menempel serta pintu terbuka tidak apa-apa! Bayangkan.

Case 3 : Penjajahan
Di posting “Bali Part One”, gua tulis bahwa gua merasa bahwa Bali dikuasai oleh orang asing. Tampak seperti warga Bali hanya menjadi pekerja.
Tapi kenyataannya dan gua tidak terpikirkan adalah para pekerja di semua objek pariwisata di Bali adalah penduduk lokal tersebut (walau pemiliknya belum tentu penduduk lokal). Tapi minimal bersyukurnya mereka dengan kedatangan para ‘tamu’ adalah mereka memiliki pendapatan!

Untuk itu dulu, selanjutnya tunggu updatean dari saya! Hahaha…🙂

, , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: