Bangun Kembali Persahabatan

Hari ini gua baikan sama sahabat gua. Jadi motong sedikit artikel tentang Bali ya.🙂 Maaf.

Heran nggak sih, kalo gua suka curhat hal-hal aneh mengenai seorang sahabat? Bukan pacar, bukan sodara, bukan keluarga, bukan mimpi, bukan sulap, bukan sihir. Tapi itulah. Dia yang sudah gua anggap sodara, bukan orang lain, bukan kebutuhan ‘claim’ (dia pacar gua! dia sahabat gua!)

*Maaf, Bocah! Posisimu lain. Kamu gak bisa kusamain sama orang yang gua maksud dalam tulisan ini! Dan kayak yang tadi udah kita omongin ya, elo dan dia –mereka– sama-sama berharga buat gua.🙂

Hahaha… Memang sahabatan beda lawan jenis itu unik. Yang namanya persahabatan ya mau nggak mau ya kecampur sama yang namanya perasaan, sesama jenis maupun lawan jenis. Gak bisa dipisahin. Yang bisa membedakan sama rasa ‘jatuh cinta’, menurut gua hanya apakah kita akan mensupport supaya dia bisa lebih bahagia, membantu habis-habisan di hari pernikahan dia bersama calon pengantinnya (bukan ‘pengantin’nya Noordin! Duar!), apapun yang gua lakukan sampai gua tersenyum ngeliat dia diatas sana –kesuksesan dan kebahagiaan atas dirinya–

Sahabat sejatiku, hilangkah dari ingatanmu
Di hari kita saling berbagi
Dengan kotak sejuta mimpi, aku datang menghampirimu
Kuperlihat semua hartaku
Kita s’lalu berpendapat, kita ini yang terhebat
Kesombongan di masa muda yang indah
Aku raja kaupun raja
Aku hitam kaupun hitam
Arti teman lebih dari sekedar materi

Reff.
Pegang pundakku, jangan pernah lepaskan
Bila ku mulai lelah… lelah dan tak bersinar
Remas sayapku, jangan pernah lepaskan
Bila ku ingin terbang… terbang meninggalkanmu
Ku s’lalu membanggakanmu, kaupun s’lalu menyanjungku
Aku dan kamu darah abadi
Demi bermain bersama, kita duakan segalanya
Merdeka kita, kita merdeka

Tak pernah kita pikirkan
Ujung perjalanan ini
Tak usah kita pikirkan
Akhir perjalanan ini

Itu adalah sebuah lirik sederhana dari pemusik yang hingga sekarang gua gemari, Sheila On 7. Sebuah pemikiran menarik dari mereka untuk menulis lirik-lirik itu.🙂

Overall, supaya kalian semua tau –termasuk orang-orang yang mengerti siapa yang gua tuju ini– bahwa kami sudah 9 bulan hidup dengan rasa curiga, tidak enak, dan ketidakpercayaan. Dihiasi dengan saling tidak mengontak, ngambek,  bahkan yang terakhir hingga 4 bulan lamanya.

Hubungan yang semakin jauh semakin membuat kepikiran ya. Semoga tulisan ini mengakhiri semua rasa-rasa itu, sehingga para pembaca tidak perlu melihat lagi tulisan-tulisan macam ini pada Andi Pancaran Media ini. Dan Bocah, Erc, Helen, dsb bisa tenang tanpa ada omongan2 tentang hal ini lagi. Hehehe…

Hari kedua lebaran. Memang bulan ini penuh makna, bulan yang suci nan fitri. Bagaimanapun karena Ia satu, gua setuju jika bagaimanapun Ia memberikan juga berkah bulan ini kepada gua. Rasa maaf memaafkan itu menyenangkan. Untuk elo, kau tau? Kesempatan untuk ngomong berdua hari ini berbeda sama kita ketemu sebelumnya.

Dulu gua berusaha untuk meminta klarifikasi, penjelasan, keterangan sama hal-hal yang bikin gua ngganjel yang tertulis pada tulisan “Untuk Sahabat Gw“. Tapi ternyata yang gua butuhkan bukanlah klarifikasi-klarifikasi tersebut, bukan penjelasan, melainkan pembangunan kembali karakter –seingat gua– yang pernah kita lewati hingga 2 tahun sebelumnya itu.

Tidak tahu, tidak lupa.
Sedikit tahu, sedikit lupa.
Banyak Tahu, banyak lupa.

Semakin gua tau penjelasan-penjelasan, alhasil rasa penasaran dan emosi yang bertambah. Bukan penyelesaian. Lah? Lalu? Untuk apa komunikasi digunakan? Untuk mengatur, apa yang loe butuhkan untuk menyelesaikannya. Klarifikasi bukanlah satu-satunya cara untuk menyelesaikan, kan?! Dan ternyatapun gua baru tau bagaimana dari gua sendiri menyelesaikan masalah itu. Gua gak peduli apa yang loe pikirkan, apa yang loe takutkan, apa yang loe khawatirkan. BODO AMAT! Kalo perlu mulai dari awal lagi LAKUKAN! Tapi insyaallah tinggal LANJUTKAN dengan Lebih Cepat Lebih Baik! lah ya…

Dan yang harus gua lakukan adalah menerima apapun bentuk yang dia berikan tadi. Dan sekarang semua jelas kan? Gak usah berfikir kebelakang apa yang sudah dilewati. Ingat aja masa-masa yang nyenengin yang kami lewati, gak usah yang jelek-jelek. ELO juga gitu ya.🙂 Minimal saat gua tidur, sekarang bisa sedikit tenang. Gak usah nahan emosi sampe ternunggung-nungging nangis buat nanya “kenapa?”🙂 karena jawabannya hanya “Diam!” */moko mode : on/* Paling pertanyaan yang gua lontarkan sekarang, “Apa elo mau nerima gua lagi? atau kalau perlu mulai lagi? Masih berharga gua buat elo?” Kalo “ya” lakukan, kalo “enggak”, silahkan, gua ya cuma bisa pasrah dan nerima apa adanya kondisi.

Ingat juga, emosi gw yang susah dikonro… *eh!* kontrol ini mungkin bisa meledak lagi suatu saat. Tapi elo sudah tau kan? Jadi nggak marah lagi kalo ini terjadi. Hehe…

Intinya, buat siapapun, jangan mengungkit yang kemarin kalo mau baikan. Pikirin apa yang harus loe lakukan kedepan buat lebih baik lagi.🙂

Buat pacarnya orang yang gua tulis disini : Maaf ya, Tyo waktu itu. Kami udah baikan koq. Kamu mau baikan juga sama gua?🙂 <– kamu dan ‘gua’, kayaknya timpang ya?

Buat si bocah! : Cah, cah, jangan dipermasalahin ya tulisan ini. Gak ada yang harus kamu permasalahin disini. Pernah kita omongin kan dan kamu sendiri yang nyuruh menyelesaikan masalahnya kan?! Moga-moga selesai.🙂

Buat sahabat-sahabat yang pernah bertengkar hebat sama gua:
Eghanindya Parnaritasari Digitalina Simbolon ● Eka Jayani Ayuningtyas Niandita ● Aci Kirana Siddharta ● Harley Anggakesuma ● Bulan Kusumawati Kalangi ● Shanti Kusumadewi Kalangi : Berantem lagi? Hayok! Kalo langgeng-langgeng aja gak seru kan?!

BBMS dan FXRP mungkin masih belum ya! Hahahaha… Mau? Silahkan mulai duluan. Gua gak merasa bersalah.

Sip! Zip! Rar! 7Zip! gZip! Cab! Tar!

~Teot teot tek blung… <– bunyi apa cobaaa? terompet… bukan… orang berak… masa’ sih?

Other Stories

Noordin M. Top Mati di Solo

Udah pada tau kan, Noordin M. Top Ketangkep di Solo? Ya, 16 September dia mati ketembak sama Densus 88 di Solo setelah menjadi buronan selama 9 tahun. Mati saja lah kau. Hadiah di hari lebaran.

Banyak yang  bilang apalah, noordin tokoh rekaan lah, posisi nyari sensasi lah. Tapi tidak ada salahnya kalo kita percaya kan?! Kalo boong, suatu saat pasti ketahuan koq. Hehe… Tulisan ini sekedar catatan rekaman saja.

Pak Budi Beli HP Nexian Dual Card

Mungkin ini pengalaman internal. Tapi hebat, tanggal 14 September 2009 Pak Budi (bokap gua) beli HP Nexian Dual SIM Card. Aneh aja gua bilang. Dan selama di Singapura & Bali, dia asik (dengan bingung) memainkan HPnya itu. Hehe…

Melihat Detik-detik kematian seseorang di Bali

Gila ini. Tanggal 17 September malam, gua nongkrong di balkon kamar hotel di Bali yang berada di lantai 3 sambil merokok. Tiba-tiba dari bawah (lantai 1) dan posisinya di seberang gedung kamar gua ada yang rame. Gua melihat. Rupanya salah satu orang yang merupakan tim kita sedang heboh dinaikkan ke kursi roda dalam keadaan terkulai oleh istri dan kolega2nya.

Orang itu adalah salah satu orang yang menjadi peserta dari acara yang harusnya gua liput tanggl 18 September. Besok paginya, kami mendapat kabar bahwa ia meninggal dunia karena serangan jantung di rumah sakit. Jujur, gua agak shock jika harus melihat detik-detik kematian tersebut.

Mengemudikan Bajaj!

Bayangkan, gua setiap hari mengemudikan sebuah BAJAJ! Bajaj beneran? Bukan! Motor gua! si Brembrem itu! Motor legendaris yang kilometernya sudah berada di posisi kepala 9 untuk kedua kalinya! Hehehe…

Tampaknya kalo gak gua harus ngganti spoolnya, gua harus ganti motor baru deh…. T_T

, , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: