Ratapan & Rintihan : Itu Nyata!

Gadisku itu minta tolong kepada gua untuk yang kedua kalinya.

“Tolong, mereka bertengkar lagi. Aku kena imbasnya. Aku disalah-salahkan.” katanya.

“Sakit dianiaya bisa aku sembuhkan. Tapi sakit dikata-kata, susah buat aku” lanjutnya. “Aku nggak pernah nyaman di rumah.”

Yang kuat ya, Cah. Yang kuat. Aku disini berusaha ndukung kamu secara moril koq.

Ratapan dan rintihan itu nyata. Itu bukan sesuatu yang berlebihan (lebay) atau tidak perlu. Itu nyata. Gua pernah merasakannya. Itu jujur. Jujur dari dalam hari seorang insan yang ketika telah diciptakan oleh dua insan yang menjadi satu, lalu dikorbankan demi keegoisan mereka.

Mereka,

ANJING!

Emosi itu lagi-lagi bermain. Bermain dalam permainan mereka. Manusia. Emosi yang bermain di dalam emosi mereka. Bermain diantara cinta yang (konon katanya) pernah tumbuh diantara kedua insan tersebut, lalu diikat di depan pemimpin agama untuk dijadikan satu. Setelah (secara kiasan) menjadi satu, lalu menciptakan insan baru.

Ironis ya. Ternyata manusia tak ubahnya seperti anjing.

“Sekali berarti, sesudah itu mati“, Chairil Anwar.

Tak ada seorang pun di dunia yang tak pernah punya impian, karena impianlah yang membuat kita hidup, HARAPAN.
Inti dari hidup adalah beranak-pinak. Bekerja, bersosialisasi, adalah bumbu dari perjalanan hidup hingga akhirnya…mati.
Pernahkah kita melihat realita sekitar? Bocah-bocah kecil tertawa lepas bercanda dengan teman kecil di perempatan jalan sambil menadahkan tangan meminta berapa rupiah dari pengendara. Kemana otak orang tua mereka? Tahukah mereka jika anak-anak itu adalah inti dari tujuan hidupnya?
Sekali berarti, sesudah itu mati. Layaknya sebuah kenikmatan seksual yang dirasakan manusia. Setelah itu, mereka berjalan di dunia itu seperti biasa.

Oleh Faiz M. H.

Coba, yang

Berpacaran

Jangan cuma demi cinta kalian berpacaran. Pernahkah kalian peduli masa depan? Jangan hanya pikirkan “Pernah!” saja. Kesatuan dua insan bukanlah semata menggabungkan dua insan, lalu masing-masing dari mereka melakukan tugas sesuai kesepakatan mereka, nafkah lahirian, terpenuhi saluran seksual serta terpenuhi dan berharap hidup kalian berbahagia, forever seperti di dongeng-dongeng barat lama.

Berapa persen pemikiran kalian ketika terlarut dalam cinta. Pernah berfikir bahwa akan muncul insan (-insan) baru yang akan tergantung sepenuhnya seumur hidup dengan kalian? Bagaimana mendidiknya, bagaimana menghidupinya, dan juga kalian harus bisa merawatnya?

Bukan sekedar itu. Pikirkanlah dulu, bagaimana kalian bisa mengajari dia cinta, seperti layaknya yang kalian –dua insan yang katanya menjadi satu itu– berperilaku. Dia melihat, dia meniru, dia mengimitasi, dia mengidentifikasi.

Dia bisa merasa sedih, dia bisa merasa takut, dia bisa menjadi pintar, dia bisa menjadi bodoh, dia bisa menjadi rusak, dia bisa menjadi baik. Kalian yang bertanggungjawab atas titipan-Nya itu.

Tolong, sekali lagi

TOLONG

Jangan cuma semata berbicara tentang cinta yang hubungannya dengan nafsu sexual belaka. Ya, wahai orang tua serta para calon orang tua… Bisa? Please…
Hargai kami, yang mau tidak mau kalian ciptakan turun ke dunia ini. Jika bisa memilih, kami tidak mau terjun ke dalam lingkub orang-orang egois yang dengan mudahnya bisa mengatakan cinta atau tidak dengan mudahnya.

Kalian tidak bisa bilang “Gak usah dianggap pusing”. Tapi… Insan yang kalian ciptakan itu bukan mainan. Dia juga punya akal, budi serta nurani. Bukan hewan yang semata hanya punya seperangkat naluri saja.

Kumohon…

, ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: