Hari Minggu & Dia yang Low Profile

Hari Minggu Duka

Siapa yang tak kenal Tukul sih? Ya, Sebastianus Donny Jourhandono, angkatan 16, panggilannya Tukul. Lalu apa hubungannya dia dengan tukul? Yaaah, minimal mukanya mirip-mirip lah sama tukul. Hehehe…

Ibunya meninggal. Kabar itu gua terima via SMS dan YM. Cukup mengagetkan. Dan pagi itu juga, kami semua meluncur ke rumahnya di bilangan Mampang Prapatan. Hujan mengguyur. Alam juga menangis tampaknya (halah, memang mau masuk musim hujan), sehingga gua yang targetnya tiba di lokasi Pk. 11.00 mulur hingga Pk. 14.30.

Walau tak lama, tapi gua seneng bisa nyampein salam duka gua ke Tukul. Biarlah. Semangat ya, ‘Kul! Karena hiduploe belom berakhir. Tuhanlah semua yang mengatur.

Ooh iya, gua motret sebuah objek aneh di jalan. Papan toko yang tampaknya kalian, para pembaca sekalian, tau mirip dengan logo apa… Hehehe…

Tulenan (klik gambar utk memperbesar)

Tulenan (klik gambar utk memperbesar)

Dia yang Low Profile

Pernahkah elo ngeliat di sinetron abal tentang seorang yang dalam keadaan menderita, lalu langsung berdoa atau shallat; dengan dollytrack ataupun crane yang membuat movement kamera begitu dramatis serta pencahayaan yang relatif dramatis walaupun rata? (di bounce semua sih)… Lalu setelah berbicara dengan-Nya, ia langsung mendapatkan apa yang ia minta sambil menangis “Ya Allah, engkau sungguh baik hati.. bla bla bla..”

Ini adalah tulisan tentang-Nya menurut gua, berhubungan dengan permintaan kita. Terserah, apakah elo mau tertawa:

“Hahaha… Yang terjadi dalam dirilo adalah usahalo, bukan dari dia!” atau “Masih aja loe percaya kek gituan!”

Jawab gua : Gua percaya.

Memang, dalam hidup, ada kalanya semua bergerak karena hubungan sebab akibat. Hubungan sebab-akibat inipun memang telah di program oleh-Nya, sehingga ketika manusia melakukan sesuatu, akan ada efeknya tersendiri. Tidak perlu ia turun tangan.

Tapi, waktu? Siapa yang sangka kecuali Dia yang tinggal mencet tombol “publish!” kayak di blog wordpress ini. Ketika ia memencet, semuanya terjadi.

Tuhan, Allah, Yahwe, Om –apapun yang disebut manusia– itu adalah panggilan. Nama. Ya, memang nama-nya. Layaknya Gua yang seorang Radian dipanggil Andi atau Jawa bahkan Biawak. Tak apa, gua terima, gua bangga akan panggilan itu, gua menghormati.

Satu-satunya yang gua percaya bahwa dia bergerak adalah apa yang dilewati dalam waktu. Karena tidak ada yang dapat mengendalikan waktu selain Dia.

Dia itu low profile. Kita pasti pernah meminta sesuatu kepada-Nya. Sesuatu yang mungkin jutaan orang lain juga minta. Bukan kita doank yang minta. Dalam film “Bruce Almighty”, si Bruce yang diberikan kuasa oleh Tuhan menggantikan tugasnya sementara menyetujui semua permintaan manusia. Apa yang terjadi? Ketidakseimbangan.

Ketika dia pencet tombol “Publish!” itu, tentu dia sudah mempertimbangkan segalamacam yang antara lain : kewaktuan, kemampuan kita, keseimbangan dan mungkin ratusan, jutaan atau tak terhingga pertimbangan yang bahkan kita sendiri tidak tau.

Percayalah, dia memberikan semua yang kita minta. Termasuk “itu”, “dia” ataupun “ini”.

Dia memberikan itu berbeda dengan badan-badan yang memberikan bantuan beras kepada para korban gempa di Padang dengan label “Bantuan Gempa RCTI” atau “Donasi MetroTV”. Disisi lain misalnya waktu kejadian situ gintung, bantuan berlabel “Caleg X”, dsb itu.

Dia tidak butuh.

Dalam hidup, kita mengenal “dititipi”. Yang gua percaya bahwa tak ada yang dititipi kecuali Ia menitipkan kita alam dan seorang darah daging. Sisanya, kita hanya dipinjamkan. Termasuk pacar-mu yang elo agung-agungkan, sahabat-sahabatloe yang loe hebat-hebatkan, atau orang yang loe fans-in itu.

Ada wacana yang berkata bahwa kita dan Dia saling membutuhkan, semuanya timbal balik. Kita tanpa dia tidak bisa hidup, tapi juga Dia tanpa kita tidak akan pernah diakui. Makannya kita diciptakan. Dari wacana tersebut terkadang muncul wacana, “Jika seperti itu, maka Tuhan gila hormat?”. Wacana lain adalah kita maenannya! Haha.. Lucu, tapi gua sempat mempertimbangkan ini.

Tapi pada kenyataannya. Sebuah kesehatan untuk keluarga dan diri sendiri, sebuah kesuksesan, seorang sahabat, pacar, atau apapun yang dulu dalam doa kita sebutkan kala kita meminta, dan ketika diberikan tidak ada label “BANTUAN TUHAN” atau “DONASI ALLAH” di jidatnya, kan?! Kita tidak tahu, bahkan kita juga sering lupa dengan itu. Apakah Dia protes? Tanya saja sendiri. Hehehe…

Yang pasti, dia memberi. Ada satu wacana yang sampai sekarang belum bisa gua bantah, “Mintalah, maka ia akan memberi”. Kita hidup di dalam lingkungan yang sudah ia program keseimbangannya. Tapi kebutuhan sosial siapa tahu kecuali dia. Dan jika kita membutuhkan lebih? Mintalah. Insyaallah ia memberinya. Karena jika kita tidak meminta, maka kita cukup. Siapa yang mau memberi? TAPI, sabar. Dan jangan lupa bersyukur karena ia low-profile, kita tidak tahu apa yang ia beri.

Tanpa kita tahu kapan kita mengambilnya lagi. Karena kita dipinjamkan, bukan dititipi.

, , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: