::Sadar, gua lupa sama yang di bawah::

“Kenapa sih gua koq sibuk banget bulan ini?!”
Kata-kata itu terlontar dari Sando dan gua menyetujuinya, bukan sebagai keluhan, tapi pertanyaan.

Hari ini, dimulai sejak gua dibangunkan Sando pada Pk. 06.32 pagi, karena kita harus mengajar di Serang, tepatnya di Akademi Piksi Input, Serang. Oke, gua bangun, sementara Arman yang belum tidur baru akan tidur. Gua dibangunkan Sando dan gua membangunkan Ignas yang semalaman bermalam. Setelah sempat bingung memikirkan bagaimana cara kita nanti memberi training di depan publik, akhirnya kami memutuskan untuk membawa komputer Desktop Pusat DG ke Serang.

Oke. Transportasi bukan masalah karena kami dijemput Pak Budi. Memulai hari juga dengan baju kemeja lengan pendek kotak-kotak, celana panjang bahan warna hitam serta sepatu hitam ala anak sekolahan, kami meluncur dari Pondok Hijau Pk. 07.45 menuju Serang menggunakan karimun merah Pak Budi. Sialan, jalan tol hampir semuanya cuma 1/2 jalan. Separonya lagi perbaikan melulu. Harusnya kita bayar tolnya 1/2 tarif aja nih… Tak dinyana, sampai di Serang Pk. 09.15 (90 menit perjalanan). Piksi Input Serang, sebuah akademi politeknik sederhana, kami memulai pengajaran. Dimulai dari Ignas yang mengajar tanpa mau berdiri karena celananya melorot, hingga Sando yang kami pikir akan susah berbicara, ternyata bisa berbicara di depan publik. Beberapa dari kami berfikir bahwa kami tidak akan sukses. Tapi ternyata, sukses besar! Haha…

Ignas yang mengajar teknik musik digital menggunakan FL STUDIO 8.0 tampaknya lebih diingat ketimbang Sando. Tapi materi yang diajarkan Sando (Motion Graphics) justru tampaknya lebih membuat para mahasiswanya tertarik. Sementara gua haya bertugas membawa mereka dan mem-backup Sando. Hehe…

Selesai mengajar Pk. 12.30, tak langsung pulang karena kami harus mengopi materi-materi yang tadi kami ajarkan kepada pihak Piksi input. Kamipun mendapat honor yang jika dibagi 3 angkanya agak sedikit sulit. Tidak terlalu banyak, tapi cukup menolong. Setelah dari situ, kami diajak makan di restoran padang (tak usah disebutkan merknya) oleh dekan Piksi, yang namanya Pak Edi. Berhubung sejak pagi belum makan, kami makan kayak babi disana. Maut. Tak selesai, setelah dari sana, Pk. 14.30 kami ke rumah Pak Edi, salah seorang pejabat deperin dan disuruh makan lagi. MAKANAN PADA LAGI! Gila. Gua udah nggak kuat, Ignas sudah mau muntah. Pak Budipun makan seadanya. Hanya Sando yang orang Batak yang makannya kuat! Hahaha…

Tapi setelah itu ada sedikit masalah. Masalah pertama adalah kami janji dengan Pak Danial Indrakusuma, seorang pembuat film dokumenter, papanya Dipa (anak UI, alumni Gonz juga) untuk membantunya memproduksi film dokumenter.

Masalah kedua adalah kesalahan jadwal yang diberitakan Pak Budi bahwa kami harus pentas di Serang tanggal 23 Oktober ini tentang musik digital, ternyata pentasny tanggal 15! Dan masalahnya adalah satu-satunya orang yang mengerti musik digital diantara kami hanyalah Ignas yang pada tanggal tersebut dijadwalkan harus pentas dansa.

Mau diganti? Hari tersebut hari kerja, tak ada yang bisa juga, kecuali gua mungkin. Tapi gua sendirian? Bisa apa?! Tampaknya Pak Edi tampaknya panik tapi *sok* tenang, kami bilang, biar kami berfikir dan mengabarkan malam itu. Kami harus segera pulang karena gua dan Sando ada janji lagi dengan Pak Daniel di Atrium Senen, Jakarta Pusat. Selama perjalanan dari ruang tamu hingga mobil, Pak Edi mulai panik, hingga kami di dalam mobilpun dia mulai panik “Bisa, ya? Bisa ya? Bisaaaa laaaah!” katanya. Haha…

Gua sebenernya pusing juga. Hingga akhirnya gua berfikir, bahwa Indra (Indra Ariefianto Kunarto, alumni UI) adalah salah seorang yang bisa animasi. Sejelek-jeleknya kondisi, kami akan merubah stand kami menjadi stand animasi dibantu gua yang motion graphics. Tapi tengah menelpon Indra, Ignas mengabarkan bahwa dia bisa pada tanggal itu, karena giliran pentasnya tanggal 17! Kami mengabarkan Pak Edi dan Pak Edi langsung mau menransfer sejumlah uang muka! Hehe.. Rupanya stress juga dia.

Menurut informasi yang dikabarkan oleh Pak Budi, pentas yang akan kita lakukan sangat berpengaruh terhadap jabatan Pak Edi. Pantes Pak Edi tampak kecewa sekali.

Meluncur menuju Ciputat untuk mengembalikan Desktop yang saat ini digunakan untuk menulis blog ini. Desktop penting, pusat DG.

Sesampainya di Ciputat kami langsung meluncur menggunakan mobilnya Ignas. Tapi Ignas mau ke Kalibata, maka gua dan Sando turun di Mampang dan meneruskan menggunakan taksi ke Atrium (karena waktu mepet, Patas P20 tidak menjamin). Itupun terlambat 20 menit. Tak apa, sampai sanapun Pak Danial ternyata juga belom datang. Bangkek! Hehehe…

Tapi intinya gua akhirnya dapet sebuah kesempatan buat bikin sebuah film dokumenter yang merupakan kesempatan buat gua. Disana kita makan lagi. Gua harus bisa ngimbangin antara kebutuhan komersil atau seni, pendidikan dan idealis. Gua harus belajar menjadi lebih dewasa lagi. Gua pingin jadi seniman, tapi juga pekerja seni, tapi juga bussinesman.🙂

Alhasil Gua pulang. Karena dari awal tidak membawa si cireng, motor kesayangan gua yang biasanya selalu ada dimanapun gua berada, bisa juga sebagai indikasi keberadaan gua, maka gua pulang naik bus. Patas P20. Tak aneh bukan? Tidak. Tapi apa?

Malam ini, ini Jakarta, itu Pasar Senen, apalagi terminalnya. Sebuah tempat yang tidak asing lagi di tengah kekejaman, keriuhan, dan keramaian kota Jakarta yang tak pernah tidur. Kota penyakitan. Kota yang sudah lama gua lupakan untuk gua pikirkan. Dihiasi sama lampu-lampu mobil malam, gua keluar dari Atrium Senen setelah mengantar Sando ke shelter busway. Gua ini dulu manusia angkot. Tidak mungkin ada hari yang gua lalui tanpa kendaraan umum Jakarta yang bisa kemana saja itu. Si (orang yang mengaku) manusia angkot ini tidak tau rute Patas P20! Gile… Gua bertanya sama tukang roti “Lauw”(gua sebut saja namanya. syukur2 dengan di publish dia jadi nambah laku kan?!) Dengan ramah dia njawab. Jelas jawabannya. “P20 Tidak lewat sini, mas.. Dia muterin atrium Senen! Jadi mas mesti nyeberang atrium.” Whaduh! Ya sudah gua menyeberang atrium. Keluar seberang atrium, gua bertanya sama satpam atrium yang keramahtamahannya lebih baik tukang roti itu “Ke terminal!” katanya tegas.

Oke gua harus berjalan kurang lebih 1 kilometer menuju terminal. Sepanjang jalan apa yang gua liat : Adalah pemandangan yang dulu hampir setiap hari gua lewati, gua terbiasa, gua menjadi satu di jalannya. Rakyat ditengah kota yang kejam ini. Ada stand pedagang emas dan berlian muda di pinggir jalan, dengan sinar lilinnya yang tungsten remang-remang itu menciptakan sebuah kesan romantis, koq. Naik tangga penyeberangan, ada beberapa nenek-nenek mengemis di pinggir jalan. Jembatan penyeberangan yang sebagian jalannya sudah dijadikan tempat berdagang. Di terminal, biasa riuh suara timer, kernet dan sopir yang meneriakkan tujuan perjalanannya. Bus-bus yang masuk ke dalam dengan tidak khawatir ada orang yang ketabrak di terminal. Tak apa. Tidak masalah. Belum lagi ada seorang anak terminal dengan baju yang bertuliskan “Maaf, saya menghamili anak bapak”. Hehehe..

Gua takut? Tidak. Di sela-sela tas ada handphone gua satu-satunya, Nokia 6233. Di dompet ada uang beberapa ratusribu, gua yang masih berpakaian sama dengan paginya, kemeja kotak-kotak. Tapi tak ada masalah. Gua aman. Selalu. Dari dulu. Kenapa harus takut? Gua tenang. Gua ingat masa lalu. Masa-masa gua masih hidup bersama mereka. Menyatu dengan mereka. Gua kangen. Masa-masa itu.

Seperti biasa, lalu P20 ngebut kejar-kejaran dengan pengemudi lainnya. Tak masalah juga pikir gua. Tiba di Shell Mampang. SMS berbunyi, gua lihat ternyata Ignas dan urusannya sudah selesai, dia mengajak pulang bareng. Oke. Gua respon dan gua turun dari bus di perempatan KFC Mampang. Setelah muter muter karena Ignas bingung mencari KFC Mampang (yang ternyata karena sudah jam tutup sudah gelap), akhirnya gua kembali ke kehidupan gua yang sekarang.

Pulang, masih makan lagi di Pondok Labu, dan pulang ke rumah. Ignas menginap malam itu. Gua lelah. Tapi entah, tidak lelah mental. Hari ini cukup banyak pengalaman…

Akhirnya gua lupa sama yang di bawah. Itu hal yang paling gua takut…

, , , , , , , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: