Celaka 12 : Kecelakaan 37.

Hari ini, ya.. Hari ini. Walau tulisan ini gua tulis keesokan harinya, tapi tanggal penerbitannya tetap pada tanggal kejadiannya. Sebuah kecelakaan cukup hebat yang pernah gua rasain dengan mobil.

Hari itu diawali dengan tidak bisa tidur. Hari yang aneh. Agaknya hari itu gua agak demam. Hari ini gua harus ke Serang, kembali menghadiri pameran STUDIO DG. Pameran Industri Kreatif KUMKM di Serang. Subuh itu gua galau. Berfikir gua sedang malas hidup, bahkan kehilangan semangat hidup. Subuh itu juga gua mencari makan keluar, warteg yang 24 jam. Makan nasi setelah sejak Rabu siang gua tidak makan nasi. Bukan tidak ada nasi, tapi tidak mood makan. Pendek kata, setelah makan baru gua bisa tidur.

Setelah bangun Pk. 09.00, Ignas datang untuk menjemput alat serta gua. Baik, kami pergi. Ignas harus di Depok Pk. 11.00 karena harus pentas dansa. Setelah menunggu kurang lebih 2 jam, Pk. 13.00 WIB kami meluncur dari Depok menuju Serang.

Sekedar informasi, alat yang gua bawa adalah sebuah komputer berkapasitas 1,2 Terabyte. Komputer pusat data dan informasi STUDIO DG, baik kerjaan maupun arsip dokumen dan video. Ditambah 1 harddisk 1 terabytes berisi video DVCPRO HD hasil shooting di Cilegon dan 1 buah harddisk portable eksternal 320GBytes dan berset-set sistem audio, kabel dan lain-lain.

Dari awal kami selalu kelewatan pom bensin, padahal mobil butuh diisi bensinnya. Akhirnya kami tidak bertemu pom bensin hingga masuk Serpong, kemudian Tangerang. Pada saat di tol Simatupang – Serpong, Patres sempat menyeletuk dengan dialog yang ia tulis seperti di notes facebooknya:

Beberapa hari belakangan, tepat sebelum perform dansa latin gw yang pertama,ada kejadian-kejadian yang bikin gw paranoid. Trauma karena di hari H–saat semestinya gw perform Agustus lalu gw malah kecelakaan yang ngakibatin gw batal pentas sama skali di hari itu dan tangan gw terpaksa dipakein armsling selama 2 mingguan–bikin gw deg-degan menyambut hari gw perform ini. Gw coba hati-hati banget di jalan supaya nggak celaka. Hari jumat pagi, gw telat bangun buat kuliah. Yang rencananya mau naik angkot aja karena capek motoran, jadi batal hari itu. Sebisa mungkin gw ngebut supaya gw nggak kena masalah sama dosen rese yang ngajar kuliah gw satu-satunya di hari itu. Jam 8 pagi kuliah mulai.

Sampe Univ. Pancasila, jam tangan menunjukkan pukul 08.10, matilah awak.. tambah ngebut lagi deh gw. Kalo bukan gara2 macet sialan di deket persimpangan rel itu dan depan stasiun lenteng, gw kaga bakal setelat ini. Pas di bawah jembatan UI pun juga macet. Gw keluarin lah jurus nyelip menyelip semampu gw. Udah dengan pede-pedenya nyelip, gw nggak notice kalo di depan gw jalanan sempit agak berpasir. Alhasil selip lah motor gw dan jatoh dengan sukses. Gw buru2 bangun dan ngelanjutin perjalanan. Toh gw nggak ada luka dan motor ga knapa2. Cuma footstep aja agak mencong.

Itu H-1 gw perform. Nah, tadi nih, pas hari gw perform, gw dianter bokap sampe depok naek motor. Ada kejadian2 yang bikin gw berasa ga enak hari ini. Pertama di gatot subroto ada mobil ringsek depannya. Roman2nya abis kecelakaan. Gw langsung inget kecelakaan gw dulu. Serem ngebayanginnya. Kedua, di Pancoran. Ada motor ga jauh di belakang motor bokap gw jatoh dan sebelomnya ngeluarin bunyi decit rem yang bikin gw begidik. Deg-degan gw bertambah. Perasaan makin ga enak. Gw mikir, apa setiap kali gw mau perform latin kaya gini ya fenomenanya? Amit2 dah.

Oia, sebelom sampe pancoran juga bokap sempet nyaris terhimpit di antara 2 mobil di gatot subroto. Jarang2 banget kejadian kaya gitu karena gw ngerasa safe banget kalo dibonceng bokap selama ini.

Lalu pas perform, terjadilah ‘kecelakaan’ ketiga. Dance yang gw latih selama berminggu-minggu ampe apal ngelotok di kepala gw, tiba2 terlupakan di bagian akhirnya dan gw mati gaya sendiri. Mengutuki kelupaan gw itu. Ternyata bukan cuma gw doang sih. Ada beberapa temen juga begitu. Partner gw juga sempet lupa.

Tak disangka, perjalanan kemudian dilanjutkan masuk ke tol Jakarta – Merak dari Serang. Berharap segera tiba di rest area yang berada di KM 42. Honda Jazz baru ini dikemudikan tidak terlalu ngebut karena mengirit bensin, tapi kebiasaan, Ignas tetap berada di kanan jalan. Kemudian Patres yang berada di depan tertidur. Dan guapun yang kurang tidur malamnya ikut tertidur. Sebetulnya gua paling nggak suka tidur ketika menumpang di kendaraan, karena dapat menular.

Proses KecelakaanGua dibangunkan dengan berkeloknya mobil ke kanan jalan, kemudian terpental ke taman yang membatasi dua jalur yang berbeda arus. Rasanya seperti pesawat gagal mendarat. Tak berhenti-berhenti. Kecepatannya cukup tinggi untuk berhenti, seputaran 50 – 80 km/jam gua rasa. Entah berapa pohon kami hajar, Dari dalam kapsul mobil terlihat kayak… apa ya? Susah juga diomongin. Tapi selintas gua melihat angka jalan di sebelah kiri kami, KM 37 – 200. Hingga kami merasakan mobil kembali terpental, dan jatuh seperti menghajar permukaan yang tajam. Keras. Padahal itu taman. Kecepatan berkurang setelah hantaman itu. Setelah menggilas sebuah tanaman, kami berhenti setelah menabrak tanaman berikutnya di depannya.

Keadaan hening sejenak. Gua sendiri kaget dan berfikir apakah gua terluka? Tampaknya tidak, tidak ada yang sakit. Gua aman. Ignas? Patres? Tampaknya mereka berdua aman. Patres bengong serta Ignas yang masih bertahan memegang kemudi —shock— tidak bergerak apa-apa sambil berkata “Anjing! Gua tidur!”. Kami aman. Gua keluar dari mobil. Untuk pertama kalinya gua berdiri di tengah pembatas jalan tol. Ignas menyusul keluar beberapa saat kemudian. Patres masih berada di dalam, kemudian membuka jendela. Entah dia yang tidak berani turun atau disuruh tidak turun oleh Ignas. Tapi setelah sekian lama mencari cara untuk keluar ke jalanan lagi, kami menemukan satu hal, yaitu terdapat sebuah sumur (yang gunanya sebagai saluran pembuangan air agar tidak banjir di tamannya jika musim hujan), yang besarnya cukup membuat salah satu ban mobil masuk dan mengunci. Jika itu terjadi, apa yang terjadi? Dengan kecepatan seperti itu, gua rasa mobil akan berputar 180°, atau mungkin : lebih. Tapi dilihat dari rusaknya pinggiran sumur tersebut, dan beda ketinggian tanah di taman itu, tampaknya mobil kami sempat meloncati  sumur tersebut karena gundukan tanah itu, dan mendarat tepat di pinggiran sumur.

Apa yang terjadi setelah itu? Swing Arms ban kanan depan melengkung kebelakang sehingga ban menggesek body (spakbor) mobil, dan lengkungan membuat rem tertarik hingga akhirnya mengerem. Kerusakan yang justru membuat kami selamat. Huff..

Mobil Kami Nyungsruk

Mobil Kami Nyungsruk

Setelah kami membuat kesimpulan bagaimana kronologis kejadiannya serta tetap tidak menemukan cara untuk naik kembali, datanglah sebuah mobil patroli polisi, entah karena laporan dari pengendara lain atau bagaimana. Mereka yang membantu. Cukup baik dan ramah orang-orangnya yang kemudian memanggilkan mobil derek dan patroli jalan tol. Kami mengganti kerusakan taman Rp. 90.000,-. Gua mengabarkan bahwa gua membatalkan ke Serang. Dengan diskusi yang agak alot diantara petugas, akhirnya mobil dapat ditarik keluar dari cekungan tersebut. Masalahnya sulit, ban mobil depan kanan mati dan posisi mobil kita berada di cekungan. Sambil petugas itu diskusi, Ignas menyempatkan diri bilang ke gua, “Wa, ambil handycam di tas gua.”, sebuah insting yang hebat sebagai pekerja multimedia pikir gua. Gua kagum sama dia.

DerekSetelah diskusi dengan para petugas jalan tol tersebut, akhirnya kami menyepakati untuk menuju Pintu Tol Balaraja Barat. Menurut para petugas tersebut, disana ada bengkel yang bisa membetulkan mobil kami. Oke, di dereklah mobil Ignas itu ke pintu tol Balaraja. Sepanjang perjalanan Ignas diam tanpa keluar sepatahkatapun dari mulutnya.

Sampai di pintu tol, berikan sedikit tips kepada petugas derek, dan kami konsultasi mengenai kendaraan kami. Dan hasilnya, swing arms harganya mahal. Imitasi 400ribu, sementara yang asli mencapai 900ribu. Gua dan Patres mencoba menghibur Ignas, tapi tidak sepenuhnya berhasil. Kadang tertawa, kemudian diam lagi. Kebetulan spareparts di bengkel tersebut tidak ada.

Ignas & Muka KucelnyaSetelah datang Pak Budi (bokap gua) dan keputusan lewat dialog Ignas dengan orang (yang katanya) penjual mobilnya tersebut, akhirnya mobil itu akan di derek ke BSD, ke bengkel yang direkomendasikan oleh orang tersebut. Yah, setelah meminjam (menyewa) mobil derek milik jalan tol, akhirnya kami sampai di BSD. Setelah tunggu menunggu, kelar juga semua urusan.

Si Jazz harus dititipkan di bengkel untuk diperbaiki. Kami pulang bareng Mas Adi dan Andika (saudara-saudaranya Ignas). Sempat makan seafood yang menghabiskan jumlah nominal Rp. 155.000,- tapi minimal bisa menutup semua kelelahan yang ada di hari itu lah.

Cyah… Ooh iya, waktu saat kejadian, rupanya gua dan Ignas sempat update status di facebook. Hehehe…

FB :
Daaaan… Kendaraan yang kami (gw, Ignas, Patres) tumpangi (milik Ignas) menyungsruk di KM 37 tol Jakarta – Merak… Sebuah… Aaaarrrgggh!

Ket :
Di post beberapa saat setelah kejadian… :p

, , , , , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: