Backup Semua Video ke Data Digital!

Re-Capturing "The Provocator", Indie Film 1999

Re-Capturing "The Provocator", Indie Film 1999

Sudah lama gua pingin, baru kesampean, berhubung gua punya harddisk eksternal berkapasitas besar. Tenang aja, gua yakin spacenya masih cukup koq buat ngerjain proyek CA. Hehehe…

Dari kemarin malam sebetulnya, gua sudah memulai melakukan ingesting (proses pemindaian dari pita video ke dalam bentuk data digital di dalam harddisk dengan kualitas layak siar), dari banyak master kaset miniDV, S-VHS, Betacam SP serta DVCAM, gua capture ulang satu-satu ke bentuk digital dan gua master ke format MPEG-2 dengan bitrate tertinggi, 15000kbps, audio MPEG Layer 3 – 384 kbps. Menurut gua, bisa dipertanggungjawabkan lah.

Kaset-kaset yang gua master dimulai dari proyek-proyek eksperimental sejak tahun 1990-an dulu hingga yang terbaru. Sangat praktis jadinya, walau agak ringkih. Yang agak gua kaget adalah ketahanan kaset yang gua jadikan master ternyata terbatas. Pita kaset DVCAM yang sudah berusia 7 tahunan itu mulai menampakkan kecacatannya. Dan alhasil, gua pikir, memang mungkin sekarang sudah saatnya beralih ke harddisk.

Dan sekarang, proses sedang berlangsung. Capture dari DV ke Codec Canopus DV dulu, baru kemudian di convert ke MPEG 2 (mempertahankan kualitas), soalnya pengalaman, capture langsung pake Pinnacle Studio ke format MPEG 2 hasilnya jauh dibawah dengan sistem ini. Dan berhubung komputer sudah kuat, gua bisa capture, sekalian ngemanage data, sekalian ngerender file yang sudah di capture ke MPEG 2, sekalian OL, bahkan nulis blog ini. Hehehe…

*/edited/*
Ooh iya, sekedar info, gua mendapat info lagi dari Mas Helmi Budiprasetyo, untuk mastering ingest, bisa digunakan format MPEG2 dengan kompresi video VBR (Variable Bit Rate), Encoding Modenya 2 pass dengan range bitrate antara 7000 hingga 9000kbps. Tapi amannya gua gunakan 10000kbps hingga 15000kbps. Memang lebih besar, tapi minimal lebih mengirit tempat ketimbang menggunakan CBR (Contant Bit Rate) 15000kbps. Hehehe…

Procoder EncodingProsesnya sih standarnya gua, capturenya bisa pake Canopus EDIUS (jadinya Canopus DV) atau Adobe Premiere Pro (Jadinya Microsoft DV, biasanya buat analog input). Nah! Encoding ke MPEG2-nya seperti biasa gua gunakan Canopus Procoder 3.0. Hasilnya bagus banget koq! Cuma ya itu, Procoder dari dulu, kalo di encode, brightnessnya selalu agak lebih turun. Jadi agak lebih gelap dan pekat sedikiiit… Tapi gak papa. Makin kayak filem hasilnya.

Doakan ya, semoga langkah yang gua lakukan ini benar untuk menjaga kualitas serta ketahanan dari perjalanan sejarah multimedia gua, dan…. STUDIO DG Terutama! Karena STUDIO DG, Karyakan Imajinasi!

Hehehe..

Salam Imajinasi!

, , , , , , , , , , , , , , ,

  1. #1 by koen on 30 Oktober 2009 - 03:46

    kalo di server, malah data digital di simpen dalam pita. kebalik-balik ya wak?

    • #2 by Si Andi on 30 Oktober 2009 - 03:56

      Itu jaman kapan pake backup tape? :p
      Gua punya dan pernah make, tapi taun 90an itu terkenalnya! :p

  2. #3 by Imam on 10 Mei 2010 - 10:16

    Rekaman mini dv saya tertindih, bisa d kembalikan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: