Alay, Digit & Gaul Sebagai Sebuah Fenomena

Bentul 'default' Alay. Diperankan oleh Model.Alay. Tahukah anda tentang “Alay”?

Kalo kalian hidup di zaman sekarang, atau di kota-kota besar mungkin tau.

Definisi Alay

Gak usah gua tulis lagi, namanya gua njiplak kalo nulis lagi. Tapi ini ada beberapa web, forum dan blog yang menulis tentang definisi “Alay”. tautan-tautan (links) yang gua pilih disini yang berbeda, tidak saling menjiplak, sehingga anda dapat mengambil kesimpulan dari definisi-definisi setiap individu yang kemudian membentuk istilah “Alay” itu.

Sebagai seseorang yang menempuh pendidikan jurnalistik, bukan saatnya memberikan opini. Gua harus memiliki cara tersendiri untuk menyajikan sebuah informasi kepada pembacanya. Sok tahu boleh sebagai jurnalis, tapi harus disesuaikan dengan data-data yang ada. Berikut istilah alay menurut beberapa orang:

  1. “Definisi Alay”,
    oleh Iwan Setiawan
  2. “Ciri-Ciri Alay”,
    oleh Yudhi’m Blog
  3. “Anjrit, nama gua aneh-aneh aja”,
    oleh seJarAh aLay
  4. “Are you “ALAY” (AlaH” Lebaayyyy”)”,
    Forum Hai OnLine, oleh beNy_bLo’ON
  5. “Saya Pernah Alay, Tapi Itu Dulu”,
    kacamatapecah blog, Muhamad Husen Ali
  6. “Apa itu alay…?heheheheheh?”,
    Pada Yahoo! Answers Indonesia
  7. “Apakah kalian tau ada apa sebenarnya dengan alay?”,
    Pada Yahoo! Answers Indonesia
  8. “Menurut kalian, anak alay itu kayak apa sih?”,
    Pada Yahoo! Answers Indonesia
  9. kenapa alaaaaaay?“,
    Pada blog ‘ikendonethis’
  10. Alayticle // Alay Article
    Blog milik Cakra Anggoro
  11. Kegemaran Terselubung Terhadap Alay di Internet?
    Alayticle (milik Cakra Anggoro) – Portal Informasi Tentang Alay

Tak ada informasi yang menyebutkan sejarah terbentuknya kata “Alay” ini. Tapi seingat gua, tahun 1998, supir gua (Bang Lukman -jaw) sudah mulai bilang, “Ih! Awas, ada Alay” yang ditujukan kepada anak-anak SMA yang mengenakan baju sekolah butek, jalan-jalan keliling di pinggiran jalan (baca : trotoar).

Berarti sedikit gua tarik kesimpulan, bahwa peng-alay-an bukan dilihat dari level ekonomi, melainkan dari sikap dan kelakuan seseorang. Karena masyarakat (maaf) ekonomi kelas bawahpun mengenal istilah alay. Dan jika dilihat dari sumber yang gua dapatkan, maka kata ‘alay’ sendiri dimulai dari masyarakat kelas bawah yang memang dominan dan kemudian terserap ke atas, bahkan menjadi bahasa yang digunakan sehari-hari.

“Anak Digit”, Cikal Bakal Kata Alay

Berbeda dengan tahun 90-2000an. Tahun 90an hingga awal tahun 2000 kata-kata “alay” jarang (bukan tidak sama sekali) didengar. Istilah-istilah yang ada biasanya “Anak-anak digit!” (sebutan untuk SMA negeri kelas bawah, yang kemudian meluas maknanya menjadi sebutan untuk anak SMA Negeri).

Bukan mendiskreditkan SMA negeri, tapi seorang teman satu SMA gua baru kemarin bercerita. Ia merantau ke kota sebelah, menempuh pendidikannya. Dia cerita tentang temannya yang mengatakan SMA Gonzaga (SMA kami saat itu, swasta) eksklusif tanpa tau bahwa teman gua yang menjadi objek pendengar itu adalah lulusan SMA tersebut. Katanya, “Eh, loe tau SMA Gonzaga di Jakarta? Idih, eksklusif banget! Masa’ SMA-SMA negeri (pencerita bersekolah di SMA negeri) semuanya dikatain sekolah digit, sih?!”

Hahaha… Dan definisi akan anak-anak digit hampir mirip dengan definisi alay yang masuk dalam 11 tautan diatas:

  • Berseragam sekolah SMA butut
  • Bolos sekolah dan merokok (dilihat dari situasi dan jam pada saat ia dijalan)
  • Omongannya sok gaul dan (merasa) paling tau tentang musik (yang sebetulnya seleranya tertentu)
  • Duduk di pinggiran jembatan atau warung sambil jongkok
  • Bahan omongannya (mereka pikir) berat
  • SOK! (dalam segala hal)
  • dan lain sebagainya.

Ya, dan definisi tentang “SMA Digit” sebagai istilah dari penghuni SMA Negeri ini memang masih bertahan hingga tahun 2006. Dalam rekaman video yang ada, belum terkenal kata ‘alay’ hingga Februari 2007, ada sebuah rekaman teater Gonzaga. Adegannya adalah ketika ada seseorang yang merokok, lalu batuk, dikatakan oleh lawan perannya, “Ah! Alay, lo!” katanya, yang gua tau bahwa itu adalah improvisasi dari pemainnya sendiri (tidak ada di naskah).

Istilah anak digit sendiri sekarang masih ada.

tuli54n 64Ul, Gaul Klasik.

Cara menulis seperti itu sudah lama sebetulnya kita ketahui. Apalagi setelah teknologi telepon selular menyebar luas dikalangan masyarakat, mulai dari tingkat ekonomi rendah hingga teratas, mulai dari orang tidak berpendidikan hingga berpendidikan tinggi, apalagi masih dalam jangkauan sinyal operator selular yang berkejar-kejaran membanting harga.

Fenomena tulisan seperti ini sudah mulai banyak sejak tahun 2002. Apalagi sekarang beberapa operator selular mengeluarkan produk ponselnya sendiri dengan harga yang sangat murah. Cara menulis seperti itu dimulai dari tulisan SMS, yang memudahkan menulis huruf yang berada pada tuts yang sama pada keypad ponsel standar (bukan tipe QWERTY), sekaligus memadatkan konten/tulisan ke dalam SMS yang berkapasitas maksimal 162 karakter/halaman (dulu kan SMS bayar, jadi kalo ngirim SMS lebih dari 1 halaman rugi. Sekarang 3-mah gratiiis. Hehe..).

Maksudnya seperti apa? Oke, misalnya huruf A-B-C. Kan berada pada tuts yang sama. Supaya kita dapat menulis cepat tanpa harus menunggu pointer mempersilahkan menulis di baris berikutnya, maka kita harus menekan suatu tombol yang merespon si HP berpindah baris. Nah! Entah siapa yang memulai, tapi tombol pemindah huruf kapital-kecil yang dipilih. Maka ‘abc’ menjadi “aBc”. Akhirnya sistem penulisan seperti ini perlahan menjadi mode. Gua pribadi menggunakan tombol panah “kanan-kiri” untuk men-trigger pointer agar berpindah.

Kenapa disebut “G4UL”? Karena begini, dulu, kata ‘gaul’ dieksploitasi. Fenomena eksploitasi kata gaul masih kuat hingga tahun 2005. Eksploitasi ini biasanya dilontarkan produk-produk tertentu melalui iklannya agar produknya dibeli banyak orang, terutama pasar anak remaja. Alhasil, semua orang SAMA. Dan pada saat itu, itulah yang disebut gaul. Termasuk cara penulisan di SMS. t1D4K m3Nul15 sePertI ini, tidak gaul. Dalam per-maya-an, istilah gaul ini masih sering menjadi trend seiring dengan kuatnya efek friendster pada zamannya.

Friendsterpun dijauhi karena (katanya) isinya Alay semua. Nah! Disinilah kata Alay mulai digunakan. Facebook mulai melanda Indonesia di awal tahun 2008, dan pada pertengahan tahun 2008, 30% penduduk Indonesia sudah memiliki account di facebook. Di tahun 2009 ini, tampaknya mulai semakin banyak orang mengenal facebook, sehingga penghuninyapun bertambah. Dan efeknya dapat ditebak.

Dalam group-group di facebook-pun mulai banyak pembahasan mengenai Alay yang pindah ke facebook dan (menurut mereka) FB menjadi kurang nyaman untuk ‘dihuni’. Pembicaraan inipun menjadi besar di dunia maya. Silahkan googling lah.

Gaul = Jiwa Indie, Gaul Modern

Perubahan besar-besaran berubah seiring dengan berubahnya sitem ketatamusikan Indonesia. Entah sistem tatamusik yang mengikuti perkembangan kondisi sosial atau kondisi sosial yang berubah seiring dengan ketatamusikan tanah air?

Ada 3 strata orang yang disebut (dan saling menyebut) gaul saat ini.

  1. Satu set orang yang menyenangi jiwa indie dan mengelompokannya.
    Biasanya orang yang banyak kita temukan di cafe, mendengarkan musik-musik independen (non-label) dan pakaian serta gayanya modis dan pingin berbeda dengan yang lain. Mereka pingin menunjukkan independensi dirinya. Walaupun kemudian independensi ini bukan dari dirinya sendiri, melainkan mengikuti gaya pemusik yang dia bilang keren! Tak lepas, perfilman, pameran, seni rupa, seni murni yang berbau Indiepun menjadi makanan mereka. Biasanya diusung oleh masyarakat tingkat menengah ke atas. Serangan “Tidak gaul, loe!” kemudian menyerang orang yang tidak masuk kategori indie pada kelasnya.
  2. Satu set orang yang menyenangi musik pasar dan mengelompokannya.
    Biasanya yang ia dengar lagu-lagu rakyat yang umum. ST12, Ungu, Kangen Band, dsb. Secara tingkat ekonomi hal ini dapat dilihat secara kasat mata. Tingkat ekonomi (sebagiannya, tidak semua) berpengaruh terhadap lingkungan pergaulan dan pendidikan, menjadikan mereka sama. Serangan “Tidak gaul, loe!” kemudian menyerang orang yang tidak masuk kategori tau tentang musik-musik tersebut.
  3. Satu set orang yang membutuhkan budget yang besar untuk berkumpul kemudian berinteraksi
    Biasanya terdiri dari kelompok eksekutif muda, kelompok (bukan individu) manusia yang sebagian besar anggotanya berekonomi tinggi. Mereka beredar di cafe-cafe yang harganya cukup mahal. Club-club dan lantai dansa keras. Atau menjalankan hobi mereka yang membutuhkan biaya tinggi (otomotif dan modifikasinya, dsb).

Tapi diantara ketiga strata tersebut, satu hal yang menjadikan kunci “gaul” adalah independensi dan perbedaan antar individu.

Pada tahun 2001 – 2004, anime (kartun Jepang), musik & film independen, serta karya-karya seni non-populer termegap-megap. Orang-orang yang menganutnya teriak-teriak, “Mana?! Pemerintah tidak mendukung kami! bla bla bla!”. Semua dimulai dari film komersil karya sutradara Joko Anwar yang berjudul “Janji Joni” di tahun 2006. Karyanya meledak! Sementara karyanya berisikan karya-karya independen, baik dari segi penceritaan, musik, gaya pengemasan film dan sebagainya.

Dari situ trend Independen merebak. Orang mencari “Indie! Indie!” yang lama kelamaan indie itupun sendiri menjadi industri. Ya, industri indie. Terdengar aneh ya? Termasuk distro-distro yang sekarang sedang digandrungi. Mereka melabelkan “Indie!”. Tak dinyana, akhirnya indie menjadi gaya tersendiri.

Misalnya sebuah trend di tahun 2007an awal yang cukup mengagetkan adalah JiFFest (Jakarta Film Festifal) menjadi ajang gaul mendadak, setelah setahun sebelumnya (2x/tahun berturut-turut) menjadi media penyaluran kreatifitas orang-orang film. Atau JGTC FEUI (Jazz Goes To Campus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) yang biasanya hanya diisi oleh pecinta musik-musik jazzy, tiba-tiba di tahun 2007 meledak pengunjungnya sampai-sampai overload (penulis tidak datang di JGTC 2007, seorang teman datang dengan kecewa sekali).

Gaul = Gadget & Tekhnologi, Gaul Ultra Modern

Ini adalah trend gaul yang sebetulnya primitif, tapi tanpa disadari menjadi sebuah fenomena. Ya, gadget. Setiap orang berusaha memiliki gadget yang paling modern, apalagi melihat orang lain memiliki hal/barang yang sama.

BlackBerry & iPhone

Contoh paling simpel sederhana adalah BlackBerry dan iPhone. Dengan billboad yang besar dan penawaran yang menggiurkan, para vendor membuat masyarakat satu persatu beralih ke gadget-gadget tersebut. Dengan satu persatu beralih, maka yang lain juga beralih. Coba kita wawancarai seorang nara sumber, seorang mahasiswi Universitas Indonesia, Apa elo pingin memiliki BlackBerry? “Ya!” jawabnya. Kenapa pingin? “Karena teman-teman gua punya semua… Lagian sebetulnya bukan BBnya yang penting, melainkan BlackBerry Messenger-nya!” katanya.

BlackBerry menjadi tenar karena Barack Obama, Presiden Amerika Serikat yang baru dan memiliki gaya, visi dan misi ‘indie’ (berbeda dari yang lain) ini menggunakan BB sebagai alat komunikasinya.

Sementara iPhone menjadi lebih populer setelah brand macintosh masuk ke Indonesia dengan pasar konsumen umum (dulu Mac hanya dimiliki oleh pihak-pihak tertentu yang sangat membutuhkan. Pembahasan tentang Mac setelah ini).

Notebook, kemudian NetBook, akhirnya Apple MacBook

(sumber : majalah CHIP) Tahun 2006 adalah tahun merebaknya Notebook. Fenomena komputer portable ini tampaknya dimulai dari UPH (Universitas Pelita Harapan) yang memberikan tablet PC kepada mahasiswa barunya. Kemudian diikuti oleh banyak kampus swasta lainnya.

Notebook

Dilihat dari konsumsinya, tampaknya para produsen dan vendor melihat peluang yang besar dari sana. Mereka banting harga semua. Banting dan banting. Hingga notebook yang tadinya kisaran harga 10 – 15 juta dijatuhkan hingga 6 hingga 10 juta rupiah (tergantung merk, tipe dan spesifikasinya). Dari situ, pasar (terutama pelajar dan mahasiswa) melihat trend dari sebuah notebook. Berebutlah mereka membeli notebook. Apalagi pasar mahasiswa yang nge-kost dan mobile.

Dari situ menjadikanlah sebuah trend, semua mahasiswa (tampak seperti) diwajibkan memiliki notebook. Setiap orang lalu bertanya kepada gua,“Wa, gua mau beli laptop… Apa yang merknya bagus?” padahal yang bertanya memiliki desktop dengan spesifikasi cukup baik. Hehe…

NetBook

NetBook Acer Aspire OneAwal 2008, NetBook merebak. Acer AspireOne dengan harganya yang hanya 3,5 juta rupiah membuat konsumsi masyarakat terhadap PC portable bertambah. Belum lagi perkembangan wifi dan internet di Indonesia yang sebetulnya sudah berkembang pesat. Komputer kecil dengan ukuran dan resolusi layar yang sangat kecil dan tidak kondusif untuk dilihat mata ini, apalagi dengan processornya yang hanya Intel Atom (FSB & L2 Cache rendah) membuat penggunaannya sangat terbatas. Tapi ya apa boleh buat. Itu Trend Chuy!

Bisa terbukti. Impian orang-orang sekeliling gua ketika baru memiliki netbook, pada prakteknya kegunaannya tidak seperti apa yang ia bilang terlebih dahulu. Bahkan perlahan mulai banyak yang mengasingkan netbooknya yang harganya bisa membeli sebuah desktop dengan spesifikasi yang luar biasa. Hehe…

MacBook

Apple MacBook (non-pro)Apple dengan eksploitasi “Stabil + Gak Pake Virus”nya, menarik perhatian terutama kaum hawa untuk mengeluarkan uang lebih dengan membeli paketan mesin portable Apple Macintosh dengan  Sistim Operasinya dengan harga yang jauh lebih mahal ketimbang Portable PC (Notebook apalagi Netbook, macbook kisaran 10 hingga 25 juta yang kelas pro).

Jujur, desain dan pengemasan produk Mac luar biasa indah! Lux! Menarik! Masalah penggunaannya pun baik, hanya saja kurang baik untuk kantong, apalagi kantong tipis yang belum dapat padat sendiri. Dan cacian Mac terhadap PC dengan sukses melumpuhkan PC. Jelas! Mac 1 vendor sendiri, semua dia kontrol, jelas stabil. Sementara PC? Mulai dari rakitan hingga puluhan vendor PC beraksi, jadi ya kestabilan untung-untungan. Disitu Mac menang dalam bidang marketingnya.

Egha, sahabat-pun akhirnya beli MacBook. Dengan dalih “Temen-temen gua pake Mac semua” dan “Mac gak ada virusnya”, dia membeli sebuah MacBook dengan harga Rp. 11,5 juta. Marketing yang sukses bukan?!🙂 Penulis sendiri menggunakan PC berbasis Windows XP. Dan selama 6 tahun terakhir, penulis belum pernah terkena virus.

Anak Digit = Alay Klasik

Ini adalah sesi sebagaimana sebuah kata dan penujuan “Alay” terbentuk.

Alay adalah sebutan untuk seorang/kelompok orang, yang memiliki gabungan karakter/sifat yang dimiliki sekelompok orang yang masih menganut gaya gaul klasik, dimana kelompok-kelompok yang masih menganut paham gaul klasik tersebut biasanya adalah anak-anak remaja setingkat SMA/kuliah yang berada dipergaulan bertingkat ekonomi menengah ke bawah.

Dilihat dari kepanjangan “Alay” = “Anak Layangan”, maka memang target kata alay adalah anak-anak kampung yang hitam karena terbakar sinar matahari, bau keringat dan kesana-kemari dengan baju kucel membawa layangan kan?!

Itulah yang menjadi titik penyebutan kata ‘alay’ yang disebut oleh orang-orang yang menganut paham gaul modern tersebut.

tuli54n 64Ul = Alay Maya

Akhirnya kemudian berkembang kepada dunia maya. Friendster memulai. Mulai banyak orang-orang yang biasanya berkelas menengah kebawah masih suka menganggap “keren” Tul1s4N s3P3Rt1 1n1. Dari sinilah asal mula kata “Alay” yang dilihat dari tulisan berkembang. Dan kenapa fenomenal?

  1. Adanya pembahasan di facebook yang menyatakan bahwa facebook muli diserang oleh alay-alay (orang-orang yang menulis dengan tulisan yang Ac4KaDuL gini)
  2. Munculnya script Alay Generator, yang mengubah tulisan biasa menjadi tulisan alay.
  3. Ada juga pihak-pihak yang berfikiran/berencana untuk mengkritisi hal-hal yang disebut dengan “alay”, berhubung masih dalam konteks pemikiran, gua tidak diperbolehkan mempublikasikan ini. Tapi hal ini menandakan betapa besarnya pengaruh ‘alay’ dalam aspek-aspek kehidupan.
  4. Pencelaan besar-besaran terhadap akun facebook seorang anak perempuan remaja dari Banyuwangi yang bernama Ophi A. Bubu yang memang menulis maut dengan tulisan ‘alay’ itu. Notesnya di facebook di copy-paste dan di cela-cela, disebarluaskan di dunia maya.
  5. Kaskuser, blogger, bahkan media sekelas The Jakarta Post-pun membahas habis-habisan tentang tulisan yang disebut ‘alay’ ini. Dan objek yang dijadikan target adalah si Ophi. JP menuliskan artikelnya dengan judul Messing With Letters“.

Terus apa yang terjadi? Efeknya luar biasa, ini tulisan di facebooknya Ophi A Bubu, permintaan maafnya. Sumber : Kaskus.us

Akhirnya, Ophi A. Bubu Yang Harus Minta Maaf atas Tulisannya… Kasihan…

Sebetulnya masalah kecil, kemudian dilampiaskan kepada seseorang yang kebetulan ditemukan. Masalahnya, kemudian banyak orang2 yang mencari sensasi dengan menulis dengan cara seperti itu.

See? Kelompok orang yang lebih sedikit akan kalah dengan sekelompok orang yang jauh lebih memonopoli suatu kondisi.

Daripada daripada, berkaryalah, maka elo akan tahu sejauh mana elo menjadi elo, gua menjadi gua, mereka mejadi mereka. Karya kalian adalah indikasi kalian. Minimal menurut gua.

Ini ada sedikit notes dari Ignas Praditya Putra di FB, Doa nasrani “Bapa Kami” ditulis dengan tulisan Alay. Ngakak gua mbacanya

Do’A

28 Oktober 2009 at 10:11pm
B4P@ qMee yG aD d’ZhuRghAa
DmLyAQnLh nm-MoOh
dTglAh kRja4n-MoOh
jDlh kHndQ-MoOh
d’BoOmeE sPrty d’Dlm ZzuRghAa
bRiknLh qMeh RzQ pD hR nEehH
N mPoOn’Lh d’Saa” qMeEe
sPrty qMipUn mNgmPn1e yG bRslH pD qMeeh
n jGn mZooQn QmeEh dLm pRcUba4nn
tPy bBzzQnLh qMie dR y6 zhjadddhh
‘mIennn

Mungkin demikian dulu pembahasan gua kali ini dengan judul “Alay, Digit & Gaul, Sebuah Fenomena”, Sampai ketemu lagi di tulisan (bukan curhatan atau rekaman) gua selanjutnya. Terimakasih!😉

nb:

Hargai penulis HANYA dengan menuliskan sumber  informasi ini di dapat.

Mikirnya susah lho.
Thx B4.

, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

  1. #1 by blakutak on 28 Oktober 2009 - 21:40

    pertamax gan!

  2. #2 by Cakra Anggoro on 29 Oktober 2009 - 12:12

    Bravo.

    Saya speechless bacanya. Sungguh lengkap, berisi, dan punya kualitas. Bangga banget makin lama makin banyak menemukan orang-orang berpikiran kritis dan terbuka seperti mas Radian ini.

    Tapi kenapa blog saya ditulis sebagai ‘portal informasi tentang alay’ dan ‘pengkritisi alay’? Hehehe.. padahal nggak, kok. Saya bukan siapa-siapa kecuali mahasiswa ekonomi yang prihatin soal fenomena alay seperti juga Mas Radian.

    Yuk mari kita sama-sama berjuang membuka pikiran masyarakat (terutama pengguna internet) untuk menerima Alay dengan baik. Kalau memang Alaynya bikin risih, ya cuekin aja. Lebih baik lagi kalo mau ngajarin biar dia nggak bikin risih. Kadang2 para “alay” itu cuma nggak sadar kok kalo suka bikin risih😛

    Nice article, man!

    • #3 by Si Andi on 29 Oktober 2009 - 21:30

      Makasih banyak, Mas!🙂 Hehe..
      Thx 4 your info juga yaa~!😉

  3. #4 by Michael Jundeo on 29 Oktober 2009 - 20:02

    hahahaha, wa wa..alay juga manusia wa, daripada ngebahas alay, mending bahas pembaharuan.. terlalu banyak ketidaksukaan di dunia wa haha

    • #5 by Si Andi on 29 Oktober 2009 - 21:29

      Gua cuma mau meluruskan istilah ‘alay’ koq. Karena gua ngerasa ada pergeseran makna disini.🙂

  4. #6 by anom on 29 Oktober 2009 - 23:06

    giL4, 4d4 b4nyakz k4teg0ry g4uL…hahaha
    gw mau “menggauli” ajalah…

  5. #7 by revy ramones on 30 Oktober 2009 - 12:03

    mas boleh saya publish tulisannya di fb saya?
    biar orang pada liat.
    tulisannya bagus loh.
    menarik lagi.
    skalian saya mau promosi, saya dari majalah digital namanya WOMagz.
    klo mo ngintip boleh diliat di http://www.womagz.com
    mau nyumbang tulisan? wah lebih boleh lagi.
    makasih yaa.
    ditunggu blog lainnya yg ngga kalah oke.

  6. #8 by Bodrox on 31 Oktober 2009 - 11:16

    Seperti membaca tesis…

  7. #9 by eka on 2 November 2009 - 16:03

    gw rajin ke gereja dah klo teks Bapa Kami-nya kyk gitu…

  8. #10 by Aril Apria Susanto on 19 November 2009 - 19:29

    Lengkap … Terima kasih informasi-nya. Minta ijin mengutip untuk ditempel di Mading sekolah, biar siswa-siswa yang penasaran dengan kata ‘alay’ sadar dan tahu apa itu ‘alay’

  9. #12 by Ihwan on 10 Desember 2009 - 23:09

    Terimakasih atas infonya Mas, sangat informatif sekali.

  10. #13 by fabio on 15 Desember 2009 - 06:20

    gile men,kampus gw dikuasain digit2 hedon. Mungkin blog lo mesti gw kasi liat ke mereka tuh wa.haha

  11. #14 by visitor on 6 Januari 2010 - 00:51

    wah, lengkap banget ulasannya..
    mari kita sama” meluruskan kembali orng” yg sudah terkena dampak “alay” tersebut.. karna makin hari makin susah diurai kalimat” yg mereka tulis ato post di web” ato komunitas tertentu (spt. FB/kaskus n dll)..

    best regard wat penulis blog ini (Mas Radian Kanugroho)..
    Very Nice..

  12. #16 by Membuat Blog on 14 Januari 2010 - 17:14

    Lengkap banget..Alay memang jadi istilah populer akhir-akhir ini, jadi trend..entah siapa yang mempopulerkan. Di satu sisi, tampak seperti suatu kebebasan mengekspresikan diri, namun hanya beda-beda tipis dengan krisis identitas diri. Tergantung masing-masing orang untuk menilai.

    Menurut saya, sebutan ‘alay’ itu hanya perilaku remaja yang aneh-aneh..bukan makian, bukan pula hinaan. Jadi jangan tersinggung jika kita disebut ‘alay’..😉
    Yang penting jadilah dirimu sendiri, be your self..!
    Buat Blog

  13. #17 by ahlihipnotis on 11 Februari 2010 - 15:49

    thanks banget info😀

  14. #18 by mudamudijakarta on 18 Maret 2010 - 13:18

    Wah thnx bgt info’a.. ni ada jg blog yang dilarang di kunjungi http://darahmuda.mywapblog.com

  1. Alay Cuma Istilah; Fenomenanya Ada Di mana-mana « Alayticle // Alay Article
  2. Twitter Trackbacks for Alay, Digit & Gaul Sebagai Sebuah Fenomena « Andi Pancaran Media [siandiandi.wordpress.com] on Topsy.com
  3. Kita cuma Masa Depan yang sedang menertawakan Masa Lalu « Alayticle // Alay Article

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: