Suatu Hari, 30 Oktober 2009 : Aku Membohongi Diri Sendiri

Maaf, kondisi emosional serta kejiwaan gua lagi gak memungkinkan untuk menulis ini hari ini. Besok baru gua tulis deh.
Maaf atas ketidaknyamanannya.
Yang penting post dulu biar gua inget bahwa gua harus ngepost ini. Kalo cuma naskah, ntar terlupakan. Kalo udah publish, kan mau nggak mau mesti gua update…

Akhirnya bisa dengan kuat, sanggup gua menulisnya. Ini dia:

Jum’at, 30 Oktober 2009.

Pagi itu dia membangunkan gua. Countdown dimulai. Countdown apa? Ya, saat-saat terakhir gua dibangunkan oleh dia. Sudah mulai terpikirkan sehari sebelum itu. Malamnya, gua minta selama 2 hari terakhir dia membangunkan gua.

Jadwal hari itu adalah gua pergi mengantar dia ke Gonzaga. Pamitan dengan guru-guru dan seisi Gonzaga. Tapi telpon Pk. 09.00 pagi  itu justru mengabarkan bahwa dia tidak jadi, dia membatalkannya karena ada masalah packing barang, yang harusnya maksimal 30 kilogram, kini jadi 20 kilogram. Dia mengganti jadwal Gonzaganya menjadi hari esoknya, di pagi hari pada hari-H keberangkatannya. Gua agak marah-marah karena informasi yang ngacho itu. Tapi ya sudahlah, gua tidur lagi.

Gua bangun kembali Pk. 10.45, saatnya gua bangun karena Pk. 12.00 gua harus pergi mengajar FONZA. Oke, gua mengajar FONZA. Selain nyokap gua yang mengabarkan hari itu Dinda ulang tahun dan ada perayaan jam 16.00 di rumah eyang, hari itu gua juga janjian dengan Ignas dan Patres untuk membantu mengambil STNK yang ditilang di Pengadilan Negeri Depok. Tapi siang itu, sebelum mengajar, mereka mau mengajak untuk datang lebih siang, rekomendasi gua sore agar tidak terlalu ramai. Tapi ya sudah.

Egha bilang, “gw ga blg y jam2 gw mw pergi?”, artinya egha mau pergi jam 2, jadi gua gak bisa ketemu siang itu untuk menyerahkan charger.

Mengajar hari itu gua percepat, Pk. 13.15 sudah kelar. Gua meluncur ke Depok langsung, janjian ketemu di kostannya Hedwi. Tapi ternyata Hedwi mengabarkan via SMS ia mau ke luar kota. Jadi bagaimana? Tak lama setelah itu, SMS kembali berdering dari Ignas, mengabarkan bahwa dia mau nonton dulu sama Patres, hingga jam 15.00. SIALAN! Yang disini pontang panting, yang sana malah nonton!

Oke, hari sebelumnya gua sudah janji kepada Egha untuk membelikan 2 pasang (4 buah) batere chargeran Samsung serta chargeran HP Motorolanya yang rusak. Dan rencananya kesemua benda tersebut gua beli setelah gua mengantar Ignas dan Patres di ITC Depok. Tapi kondisi berubah, akhirnya gua memutuskan untuk membelinya siang itu juga di ITC Depok. Ignas dan Patres gua minta untuk menyusul ke ITC Depok.

Gua berkeliling ITC sambil mencari barang pesanan gadisku itu. Belum ketemu, gua mendapat SMS dari dia, “Gua pergi sama keluarga sampai jam 10an” katanya. 10 malem maksudnya. Oke. Semua barang ketemu dan total sejumlah 185.000,- minta bon dan gua harus minta ganti. Hehe…

Setelah dari situ, gua makan. Disitu gua mulai merasa menahan tangis. Tempat itu adalah tempat yang hari Senin sebelumnya gua jalan bareng sama dia buat belanja ini-itu disitu. Ke tukang kacamata, menemaninya beli tengtop dan lain-lain. Senin itu menyenangkan.🙂 Dan kali ini gua disitu sendiri, makan sambil menunggu Ignas dan air mata mulai tidak terkontrol. Tapi gila, sendirian nangis kan nggak enak. Disitu gua mulai bad mood. Sebenernya gua udah agak badmood dari pagi.

Kemudian Ignas sudah menunggu di seberang ITC. Oke, kita meluncur ke Kota Kembang dan berurusan di pengadilan (bukan diadili, cuma sekedar mbayar di loket doank). Ada satu hal yang menarik :

Tata Cara Mengambil SIM/STNK yang ditilang di pengadilan

  1. Patres di Loket Pidana

    Patres di Loket Pidana

    Pastikan kita datang agak sore, biar nggak rame. Jam16 – 17anlah gitu.

  2. Datang, lalu lihat nomor tilang kita di papan pengumuman. Lalu setelah kita menemukan nomor tilang kita, kita catat nomor antrian kita.
  3. Lalu kita masuk ke tempat yang sudah ditentukan, loket pidana.
    Lucu bentuk loketnya. Bukan loket, hanya jendela yang 1/2 terbuka. Ignas ngakak ngeliatnya dan menyuruh gua membahasnya di blog ini. Hehe..
  4. Setelah datang, syukur-syukur nggak ngantri, lalu kasih saja surat tilangnya kesitu. Bayar sesuai dendanya, lalu STNK diberikan. Selesai.

Hehehe…Pantes aja banyak calo2 SIM/STNK bersedia membantu kalo ditilang. Gampang ternyata. Gua pikir mesti pake ikut sidang segala. Hehehe.. Di pengadilan ini, gua menemukan beberapa hal aneh, yang antara lain, betapa seramnya yang namanya penjara/kurungan. Ini ada kurungan wanita di pengadilan ini, bentuknya aja horor.Penjara Wanita P. N. Depok :

Penjara Wanita P. N. Depok

Penjara Wanita P. N. Depok

Dan kamipun mengakui, betapa kreatifnya masyarakat Indonesia memanfaatkan kondisi. Begini, setelah dari situ, kami mencari makan. Masdidid tampak masuk angin dan harus makan. Oke, kami makan. Dan setelah makan di depan P. N. Depok, kami menemukan suatu yang lucu, ini dia! Hehe..

Bakso Obama

Bakso Obama

Ya, Bakso OBAMA yang terletak persis di depan P. N. Depok tersebut. Hihihi… Kami semua ketawa melihatnya.

Ya sudah, tak ada kerjaan lagi kami pikir, kami meluncur dulu ke JPC Kemang untuk menemani Patres membeli kamera foto, setelah itu McD. Kami pulang Pk. 19.00. Setelah dari situ, gua baru inget, bahwa adek gua ULANG TAHUN!!! Gua mau nangis hari itu, dan adek gua SMS, “Mas Andi, nanti di rumah ya, aku mau ke rumah jam 9an” katanya yang saat itu menginap di rumah eyang gua.

Mellouw, dimulai disini.

Gua terenyuh, serasa mau nangis. Langsung tancap gas menuju rumah bersama Ignas yang menebeng gua. Sebelumnya, gua mentarkan Ignas dulu ke rumahnya di LBI F/18. Sebelum bertemu adik gua, gua sedikit berbicara dengan Ignas. “Naz, nggak ke rumah Egha?” kata gua. Semakin lama kondisi menurun. Ignas kemudian bercerita, selama ini, tidak ada sahabatnya yang ‘kembali’ setelah keluar negeri. Mereka jadi orang lain. Kali ini Ignas diam saja, padahal tadi siangnya dia tertawa-tawa, walau gua merasa tawanya agak dibuat-buat. “Nggak tau” akhirnya dia menjawa. Gua mengusulkan, supaya chargeran dan batere itu Ignas yang menyampaikan, malam itu. Malam itu, gua harus segera pulang. Adek gua menunggu gua di rumah. Ignas gua tanya sekali lagi “Gimana? Mau tidak?”, tetap jawabnya “Nggak tau”. Pikir gua, supaya ada tanggungjawabnya, gua berikan barang itu dan gua pulang.

Setelah selesai urusan sama adek gua, gua memeluk adek gua yang ulang tahun, lalu adek gua kembali ke Pamulang. Gua sayang sama Dinda, adek gua nomer 1 itu.

Lalu gua dirumah sendirian.

Gua melihat celah lobang kucing di pintu kamar nyokap gua pintunya terbuka. Apa ada kucing yang masuk? Ternyata memang ada. Chibi, kucing kesayangan kami tidur di kasurnya Dinda. Gua duduk disebelah kucing yang manja itu, lalu mengelus bulunya. Gua inget sesuatu. Gua inget rambutnya Egha ketika mengelus bulu kucing gua itu. Rambut egha lebih halus dari bulu kucing itu. Gua bilang, “Chib, sebentar lagi Egha pergi.” serentak tangisan yang ada. Tangisan kehilangan, tangisan yang ternyata gua simpan dari siang, dimana gua membohongi diri gua sendiri untuk tidak sedih.

Gua sangat sedih. Gua merasakannya ketika air mata gua keluar. Gua akan kehilangan dia. Telepon berdering, Egha menelpon. Gua bilang padanya gua menangis saat itu. Egha mengejek. Tapi dia pingin, charger itu gua yang mengantarkan, karena tanggungjawabnya sama gua. Oke, gua pastikan Ignas, apakah dia mau mengantar saat itu? Ignas tetap jawab “Tidak tahu”. Oke, gua harus ke rumah Ignas, mengambil kembali barangnya dan memberikannya kepada Egha. Karena jika tidak, Horor! Tu barang gak jelas akan sampai atau tidak ke tangan Egha.

Benar, sampai rumah Ignas, Ignas keluar dengan membawa barang yang tadi gua titipkan, dan ketika gua tanya apakah dia mau ikut, jawabnya, “Tidak tahu”. Oke, gua ke rumah Egha.

Pelukan Hangatnya Yang Terakhir.

Sampai di rumah Egha, tepat begitu dia pulang rupanya.

Dalam pembicaraan di waktu yang sedikit itu, gua parkir motor gua di depan rumahnya (tidak dimasukkan) dan gua juga tidak duduk, apalagi bikin kopi dan merokok seperti biasanya. Hari itu, wajahnya spesial. Kami berbicara tentang masdidid. Egha takut masdidid hanya datang dan diam disitu. “Egha tidak mau”, katanya.

Lagi-lagi hari itu, Pk. 22.30 WIB. Mukanya manis. Manis. Manis sekali. Wajah yang belom pernah gua sadari kalo dia itu gadis yang manis. Tetap, gua menyayanginya. Kami memulai berbagi hati lagi disitu, berbicara dengan berdiri, menagih semua janji-janjinya. Hari itu tidak seperti biasanya gua menyangkal. Gua mempercayainya. Gua hanya mempertanyakannya:

apa egha mempercayai gua? ● apa egha sayang sama gua, sama masdidid? ● apa bener kami lebih penting? ● apa egha kembali? ●● Semua jawabannya “Ya” ●● egha, elo gak akan menghilang kan? ●●● “menghilang apa?” katanya ●●● menghilang karena kehilangan jejak, gua bisa cari. Tapi kalau menghilang dari hati, gua gak bisa mencari. mungkin? ● “tidak” jawabnya sambil tersenyum. ● janji? ● janji. ● gua mempercayailoe. Pergilah — kita masih punya janji kan? pergi naik motor Supra ini berdua lagi di seputaran Sudirman dan Thamrin, lalu saling pamer gedung-gedung milik kita…

Setelah itu kita berdua tersenyum. “Ya sudah” gua bilang. Lalu gua mundur, mau pulang. Tapi terhenti. Dari jarak 1 meter di depan dia kami saling menatap, seperti biasa, gua membuka kedua tangan gua, isyarat gua minta di peluk. Kami berpelukan, tak ubahnya seperti biasa. Tapi yang kali ini agak berbeda. Gua memegang rambut di punuknya. Halus. Rambut yang biasa gua elus. Rambut yang hitam, panjang dan lembut. Bias, tapi kali ini tidak biasa. Ini kesempatan gua yang terakhir gua pikir.

Satu hari gua menahan rasa tangis, kali ini tidak bisa terbendung. Gua ini sombong dan menjaga gengsi di depan perempuan. Cuma dia satu-satunya gadis yang pernah gua basahi pake air mata sambil memeluknya. Pertama kali seumur hidup gua, hampir seperempat abad umur gua, gua menangis di pundak wanita. Gua bilang, “Gua takut, elo hilang..” berkali-kali sambil berfikir, “Tuhan, enggak adil. Mereka yang kau titipkan ini, tidak pernah lama di sisi ku. Apa rencana-MU?”

Pelukannya, rasanya hangat. Rasanya berharga. Jauh lebih berharga dari apa yang bisa gua dapetin selama ini selain gua mendapatkan sahabat-sahabat itu. Pelukannya yang hanya 5 menit gua rasakan itu rasanya seperti mengembalikan Eka, Aci, Egha, Moko, Bowo, Harley, Brian, dan semua orang-orang penting ke sebelah gua, main bersama, bercanda bersama. Gua kangen masa lalu sesaat. Kangen luar biasa.

Semua selesai. Gua tidak boleh menangis sama dia. Dia bilang, gua nggak boleh menangis besok, waktu mengantarnya ke bandara.

Hari itu seperti setan. Tangisan itu menghilang setelah itu, tapi terkadang muncul. Bukan cuma dia yang membayangi pikiran gua, tapi masa lalu. Orang-orang yang sekarang sudah ‘entah dimana’ itu.

Saya menangis, hingga tertidur karena lelah menangis malam itu.

Jangan lupa, apa yang harus loe pamerin ketika kita bisa naik Supra bersama lagi.
“Janji?”, “Janji!” kataloe.

*Janji 2 orang…

, , , , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: