Hari Terakhir Yang Ia Beri

Maaf, gua sangat tidak sanggup menulis rekaman hari ini dan hari kemarinnya (tanggal 30 dan 31) sebelumnya. Sebelum akhirnya gua memberanikan diri untuk menulis ini, 2 November 2009. Tulisan tertanggal 31 Oktober 2009.

GadiskuYang Terakhir Darinya

Hari ini, gua dibangunkan oleh telpon dari nomor +628999299455 itu. Gua lalu langsung bangun. Itu panggilan mbangunin gua dari dia yang terakhir. Nggak akan ada lagi nomor semacam itu yang akan mbangunin gua. Menyesal dulu waktu setiap hari dia rela membangunkan gua setiap pagi, gua gak bangun-bangun. Itu sudah setahun lebih yang lalu.

Pagi itu jam 08.22. Dia nelpon, membangunkan gua, “Wa, gua berangkat ke Gonz ya sekarang” katanya. “Ha? Udah mandi? Koq elo nggak SMS gua dulu?” kata gua “Udah wa, gua udah mandi, udah sms elo” katanya sembari gua melihat monitor LCD ponsel ini yang ternyata ‘1 Messages Received’ dan benar itu memang dari dia. Gua panik diantara kantuk yang sangat itu. Lelah semalam gua habis menangis. Kali ini, menolak samadengan tidak ada lagi sama sekali dari dia. Gua minta dia menunggu gua. dia bilang, “Iya.gw jd berasa kereta bwt lo..haha” lewat SMSnya Pk. 08.29.02 ini.

Ya, itu pertemuan, SMS janjian, dan pergi terakhir. Ooh iya, mengenai SMS dan telpon yang tampaknya selalu gua identikkan dengan dia, memang. Dari awal kita kenal, hubungan kami (hampir) identik dengan alat komunikasi selular itu. SMS dan Telpon yang mendekatkan kami dengan nomor ‘3’-nya dan (dulu sempat) axis itu.
Sementara gua ngibrit dari Ciputat ke Gonzaga, almamater SMA kami, entah apa yang ia lakukan. Perjalanan high-speed dengan sepeda motor yang biasanya ditempuh dalam waktu 35 menit, kali ini dapat gua tempuh selama 20 menit. Tapi sampai sana dia belum tiba. Gua tunggu di warung Maman seperti biasa. Kami sempat SMSan. Katanya dia naik angkot dan angkotnya ngetem lama, terus gerah & mau ngamuk. Biasa.

Gonzaga

Egha sampai. Dia turun angkot. Pertama kali gua lihat, biasanya gua yang selalu menjemputnya. Gua nggak pernah ngeliat dia naik kendaraan umum sebelumnya. Sudah, gua menyeberang ke depan gerbang dan masuk ke Gonzaga bersama-sama. Gua terharu sebenarnya dalam hati. Itu tempat kami sempat menjalani semuanya bersama kan dulu?! Dia pamit ke banyak guru termasuk Pak Dewa yang sangat dia cari itu.

Mukanya cerah sekali. Dia bangga, dia bangga sekali bisa bilang “Bapak, ibu, aku pamit mau ke Jerman”. Ya, sebuah cita-cita yang sudah bertahun tahun dia ingin, dan satu tahun lebih dia perjuangkan. Gua seneng. Gua mengintip dari balik kaca pintu ruang guru, membiarkan dia pamit ke satu persatu guru SMAnya itu. Seorang guru, Pak Tri Susilo menyapa gua yang sedang mengawasi Egha, mengintip di kaca pintu ruang guru. “Ngapain wa?” katanya. “Enggak, nemenin dia pamitan ke Jerman” kata gua. “Sabar wa,” sambil megang pundak gua, “Lihat tu, mukanya seneng banget. Dia bahagia” katanya. “Masuk sana! Temani dia.” tutupnya sembari senyum ke gua lalu berjalan pergi masuk kelas.

Sekali lagi gua menatap ke dalam ruang guru, lalu ada Bu Woro memberi tanda gua suruh menemaninya. Dia sudah di ruang komputer guru rupanya sekarang. Gua menyusulnya dan berbicara dengan Pak Alex, Pak Hari, Pak Harto dan beberapa orang guru lainnya yang sedang beraktifitas di jam istirahat murid-murid tersebut. Menyusul Bu Rini, Miss Susan, kemudian yang paling dicari adalah Pak Dewa, Pak Agus Dewa. Pembicaraan relatif lebih lama di tempat Pak Dewa, bersama Pak Bangfis juga.

Egha Pamit

Egha Pamit. Kiri - Kanan : Egha, Bu Woro, Miss Susan

Egha Pamit

Egha Pamit. Kiri - Kanan : Bangfis, Pak Dewa, Egha

 Setelah itu, tak lupa, target Egha adalah Romo Rudy. Tapi sayang sekali, tampaknya dia tidak bisa bertemu dengan Romo Rudy. Guapun tidak melihat karena tidak mau masuk ke WB. Entah kenapa. Gua menunggu di depan aula seminari. Tiba-tiba Egha telepon, bertanya gua ada dimana, “Gua di depan moderator!” katanya. Lah? Jauh amat. Gua menyusulnya. Egha sudah berpamitan dengan Pak Ish di ruang moderator ternyata.

Sempat akhirnya Egha difotokan dengan latar Gonzaga, sayang ada di kameranya Egha, nanti gua minta dia upload ke email. Dan kami sempat berfoto narsis. Gua pingin punya foto berdua lagi dengan dia, dan akhirnya, gua punya. Sudah lama momen ini tidak sempat kami miliki.

Gua & Egha

Foro narsis gua & Egha. Egha lagi sakit leher?

Setelah berpamitan dengan teman-temannya yang lain, tak lupa Pak Satpam bahkan Sukro, akhirnya dengan si Brembrem (Supra), dia minta gua mengantar  & menunggunya di tempat potong rambut di bilangan Ragunan, dekat kebun binatang. Gua lupa nama tempatnya, yang pasti baguuu~uus banget. Agak ke Bali-balian desainnya. Tapi karena lama dan gua tidak tahan, tokh gua gak boleh masuk juga, gua mencari kopi di seberang jalannya. Ternyata sudah selesai.

Baik, gua kembali kesana dan… Sebentar.. Ini Egha? Egha yang gua kenal rambutnya sebatas punggung? Kali ini sepundak. Egha cantik! Dia memang cantik! Hahahaha! Dia potong rambut disini karena dia pikir motong rambut disana mahal. Daripada panjang disana, lebih baik ia potong pendek disini. Lalu gua mengantarkan Egha pulang ke Jagakarsa. Itu teakhir kalinya Egha naik si Supra ini. Gua akan mempertahankan Si Supra, dia telah banyak membawa orang-orang yang sangat penting buat hidup gua. Itu kali terakhir juga gua membonceng Egha, melewati pelosok Ragunan serta melihat Egha di depan rumahnya. Ia masuk dan gua pulang. Gua janji untuk mengantarkan dia ke Bandara.

Sempat mampir ke rumah Arman untuk meminjam kamera foto digital SLR SONY α (alpha)  100-nya, lalu menghubungi Ignas. Saat itu jam 1 kurang, Ignas baru bangun rupanya saat gua telpon. Semalaman ia tidak (bisa) tidur. Kasihan Ignas. Ia sangat merasa kehilangan adiknya. Ignas bilang, “Bentar, gua cari mobil dulu”, karena mobilnya sedang dalam proses reparasi dan beberapa saat kemudian katanya, “Tidak dapat.” Baik, gua bilang. Naik motor.

Bandara

Sampai di rumah, gua sibuk mempersiapkan kotak kenang-kenangan untuk Egha, Pk. 13.30 mau pergi, hujan. Akhirnya gua memaksakan pergi Pk. 14.20. Hujan mereda walau sedikit rintik-rintik. Menuju tempat Ignas, sampai pada Pk. 14.45 dan jalan 10 menit kemudian. Ignas mengenakan topi. tidak biasanya.

Mengenakan motor Supra X 100cc “B 4302 OE” keluaran tahun 2002 yang sekarat dan seperti bajaj tersebut, kami berdua menyusuri Lebak Bulus hingga Ciputat dan masuk lewat gang yang ada di sesempitan Pasar Ciputat, menyusuri Sarua-nya, lalu BSD, Serpong, Pondok Jagung, hingga masuk ke kota Tangerang, Melewati polisi dan bertanya kemana arah menuju pintu belakang Bandara Soekarno Hatta, hingga akhirnya Bandara berada di sisi kanan jalan, perjalanan yang hanya ditempuh dalam waktu 1 jam 4 menit. gua takut melihatnya. Melihat bandar kepergian hati, orang-orang itu. Bandara jahat yang mengakhiri semuanya, tapi belum pernah memberikan gua apa-apa.

Sampai di tempat parkir motor terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, berbeda dengan sebelumnya, saat gua mengantarkan Bella pada Oktober tahun 2007 lalu bersama dengan Riandy. Persis 2 tahun setelahnya. Waktu itu gua parkir di depan pintu, tapi kali ini di tempat parkir motor. gua berjalan. Ignas menyusul dengan pelan dibelakang. Mendapat SMS bahwa Egha belum keluar dari briefing yang diberikan oleh Agentnya (Prime), gua membeli sebuah telur rebus. gua baru ingat belum makan dari pagi.

Kami masuk ke pintu keberangkatan di terminal dua tersebut, menyusuri pinti demi pintu, lalu ada ATM Bukopin, sempat mengecek saldo, lalu pergi lagi, tapi Ignas memanggil. Tante Sumiyati dan Oom Jalintar serta beberapa orang keluarganya seperti Qlay dan Ibu (neneknya) serta nambory duduk persis di sebelah ATM tersebut. Egha juga belum ada.

Gua dan Ignas keluar untuk merokok. Tapi Ignas diam saja tanpa wicara. Guapun jujur tidak dapat menahannya. Apa yang nggak bisa kau tahan? Masa lalu yang tidak bisa gua tahan. Gua gak bisa  bilang apa-apa ke Ignas yang pasti sudah berbicara dengan dirinya sendiri saat itu. Gua mematikan rokok dan berpindah tempat ke smoking area di sebelah barat dari gate tersebut.

Kepala gua isinya masa lalu. Mulai dari 2007 • pertemuan kami • dia jadi adiknya ignas • dia di Oh Mas Je • dia yang melengking kesenengan melihat kembang api • dia yang bilang ke gua, “kau terlalu sayang sama aci” • dia yang sempat gua elakkan bahwa dia bakal jadi orang yang dekat dengan dia • 2008 • dia yang minta tolong menjaga gua • dia yang gua pikir harus gua jaga • dia yang akhirnya bisa gua sayang • dia yang katanya menyayangi gua • dia yang bilang, “kau lebih dari pacar” • dia yang sudah jadi pengganti keluarga gua • dia yang pergi ke Jogja • dia yang menelpon gua tiap malam • dia yang SMS gua setiap hari • dia yang pergi ke Surabaya • dia yang meluk gua • dia yang gua peluk • dia yang pergi ke Medan • 2009 • dia yang gua posesifkan • dia yang sempat tidak gua percaya lagi • dia yang gua comblangin sama Doni kemudian Satyo • dia yang gua maki-maki • dia yang gua tangisi • dia yang pernah menangis • dia yang pernah jadi tempat gua menangis • dia yang gua marahi • Dia yang marah ke gua • dia yang pernah gua kecewakan • sampe dia yang gua peluk sambil bilang, “Jawa sayang Egha”, “Egha juga sayang Jawa” balasnya. Itu semua cuma sedikit dari apa yang gua pikirkan saat itu.

Hari (saat) itu, menahan air mata rasanya seperti menahan nafas. Tapi semalam Egha pesan, bahwa gua tidak boleh menangis ketika melepas dia disana. Selama di Bandara, gua belum melihat dia. Oom Jalintar datang ke smoking area itu juga dengan Agra dan seorang temannya. Gua berbicara banyak tentang Ignas, Egha serta keluarga. “Oom sekeluarga udah jadi pengganti keluargaku” gua bilang. Egha cerita semuanya ke ayahnya, semua yang gua tulis diatas. Dia cerita. Disitu gua tidak bisa menahan lagi air mata. Ayahnyapun menahan. Dia bilang, “Inilah ego… Jaga egomu.” katanya.

Ponselnya berbunyi, Oom Jalintar mengangkatnya, berbicara sebentar kemudian menutupnya. “Egha udah keluar. Sambutlah adekmu duluan.” katanya. “Enggak, Oom, biar Ignas duluan, aku nunggu disini saja.” kata gua yang kemudian menelpon Ignas, bilang Egha sudah keluar, dia bilang “ya”. 10 menit kemudian gua masuk. Tapi Ignas tidak ada. Egha yang ada dan kita berbincang. Ignas lalu datang dengan topinya yang menutupi separuh wajahnya. Kami berfoto-foto ria. Termasuk Ignas yang sempat berfoto.

Sesi Foto Bersama Ignas

Ignas & EghaMelihat Ignas yang begitu depresinya, Egha lalu memeluk Ignas. Pelukannya yang tulus pikir gua. Tapi entah mengapa, Ignas tidak merespon. Pelukan Egha disitu, terlihat jujur. Sesi foto terus berlanjut, hingga Egha bertanya, “Ignas mana?!”, gua jawab tidak tahu. Gua berkeliling tidak menemukan Ignas dan gua menyerah. Kami terus berfoto diantara Egha dan kepanikannya. Dan dia bilang, “Kedatangannya kesini sia-sia kalau begini caranya”. “Kalau begitu, cari dia! Dia minta elo jemput!” kata gua beberapa kali sampai gua membentaknya. “TIDAK!” bentaknya balik. “Yang mau pergi itu gua! Kalo dia butuh gua, kemarilah dia!” tungkasnya.

Hingga saat dia harus pisah, kami berpelukan. Pelukan kali itu dengan dia tidak hangat. Dicampur keburu-buruannya. Tidak apa-apa. Gua memaklumi. Sampai saat itupun dia masih bertanya, “Mana Ignas?!” gua diam saja, tidak bisa menjawab apa-apa. Tak mungkin gua bicara apa-apa. Gua harus motret kepergian dia, pikir gua. Pun kalau gua samperin, belEgha - Ignasom tentu dia mau masuk selain Egha yang menjemputnya.

Untuk informasi, ini foto waktu kalian berdua masih saja berdebat beberapa saat sebelum  keberangkatannya. Eghapun sangat membutuhkan elo. Sayang… Ego… Dia masih tetap sangat menyanyangi elo. Ia menangis hanya di depanloe, masdidid. Hei, kakaknya. Kau lihat? Dia sangat cantik hari itu. Cantik sekali. Kecantikan yang benar-benar Egha yang dulu kau lihat, kan? Guapun menyayanginya. Matanya, bersinar lagi kayak dulu. Dia gembira sekali. Ya, mata. Apa yang paling berbeda dari Egha adalah matanya. Sudah lama guapun rindu matanya yang seperti ini. Adekmu itu, dalam setahun sudah sebegitu dewasanya.

Gua & EghaOke, lanjut, Setelah foto bersama Eghapun, egha akhirnya berangkat. Berangkat tanpa kakaknya. Saat dia masuk ke dalam pabean, gua sempet bilang, “Kontak! Telepon ketika di dalam!”  gua bilang. Walaupun dia cuma mengacungkan jempol, tapi…

Oke, Egha masuk, kami tidak bisa melihatnya lagi. Kami sekeluarga keluar, mencari tempat untuk merokok. Oom Jalintar ke ruang rokok sementara gua mencari Ignas. Saat gua temui, Ignas meringkuk di sebelah tiang pacang bandara yang besar itu.

Seperti tertulis dalam blognya, dialog antara karakter Bragi, sang sahabatnya Egha dengan Ignas yang sedang berjalan menyusuri bandara malam itu. “Di Luar”. Keduanya adalah karakternya sendiri. Gua yang merasa tidak kuasa menghiburnya diantara perasaan gua sendiri, maupun miris melihat sahabat gua yang satu ini kondisinya begini.

Guapun berpindah tempat, kembali ke smoking room. Duduk, memesan Indocafe 3in1. Kopi yang selalu gua buat jika di rumah Egha, maupun di rumah gua sendiri. Gua SMS Ignas, “Naz, kami di smoking room. Jika masuk dari pintu depan, belok ke sebelah barat”. dia membalasnya dengan segera, “I don’t wanna know where  you are, but where she is. Yes, yes, I know.. Inside.” SMSnya. “No, she is at the plane now. …baka…” kata gua.

Telpon berdering. Nomor +628999299455 itu masih menghubungi  gua. Segera gua angkat. Dia bilang, “Bokap! Bokap!”, dia minta disambungkan ke ayahnya. Setelah itu ke adiknya dan telpon di tutup. Gua tau HPnya masih menyala dalam pesawat dan gua kirimkan SMS untuknya, “Some phrase i forget to say it to you, “I Love you, sis..”” dan tepat setelah SMS itu gua kirim, nomor itu kembali berdering pada Pk. 18.57 dan hanya bilang, “Dadah, Jawa…”, gua bilang “Dadah juga, Egha…” saat itu gua lihat Ignas datang ke smoking room. “Ini! Ada Ignas!” gua bilang serentak. HP gua dibawa oleh Ignas, dan itu terakhir kali gua mendengar suaranya lewat telepon ini.

Saat gua hampiri teleponnya telah selesai. Gua gak sempat lagi ngomong apa-apa. Tapi tak apa.

Keluarganya lalu pulang, kami juga harus tapi gua dan Ignas bertahan di atas, melihat pesawat Egha takeoff dan diam dulu disana. Hingga akhirnya kami pulang.

Perjalanan Pulang

Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan,
sayang engkau tak duduk, disampingku kawan.

Banyak cerita, yang mestinya kau saksikan…
Ditanah kering bebatuan…

-Ebiet G Ade, Berita Kepada Kawan

Itu adalah sebuah senandung yang gua nyanyikan dalam hati sepanjang perjalanan pulang. Kembali melewati belakang Bandara dengan cahaya cahayanya serta dikelilingi sawah menuju Tangerang Kota, Serpong lalu BSD dan macet di Sarua.

Gua nanya sama Ignas, “Anjrit! Macet apaan nih?” Ignas menjawab (sudah mulai bisa menjawab) “Mau pada ke PIM kali…” “Ha?! PIM? Disini?” kata gua kaget. “Iya, PIM. Ini kan malam minggu dan tiap malam minggu pasti PIM macet. Ini semua pada mau ke PIM semua ini!” katanya.

Tawa mulai muncul lagi diantara kami, termasuk beli bensin di tengah perjalanan pulang yang Ignas hanya berpatungan Rp. 5000,- “Kalo gua nebeng mobilloe aja, patungannya Rp. 50.000,- Sekarang naik motor, elo cuma patungan Rp. 5000! Brengsek!~” kata gua. Tawa memecahkan kesedihan itu.

Beli Helm Baru!

Kios Helm Pasar Cimanggis

Kios Helm Pasar Cimanggis

Hari itu gua melihat helm gua butut sekali. Terbang-terbang terbawa angin karena sudah kendor. Gua memutuskan untuk mampir membeli helm sambil menuju jalan pulang. Melewati Jombang, Pertigaan Bukit, lalu keluar di gang Pasar Ciputat. Tidak belok kiri menuju rumah Ignas di Lebak Bulus, ataupun Putar balik dan masuk ke gang “Cipayung” kelurahan gua, melainkan terus menuju depan Tip Top, arah Pasar Cimanggis, ke kios helm langganan gua.

Kurang ajar! Helm pada habis-habisan. Mana begitu sampe sana gua disambut sama fogging asep knalpot motor yang punya kios lagi (jebol motornya). Hehe…

Kiri : Helm Baru. Kanan : Helm Lama

Kiri : Helm Baru. Kanan : Helm Lama

Puyeng milihnya karena helm half-face sisanya tinggal yang sempit-sempit. Tapi akhirnya ada yang gua cocok, dan merknya juga bukan merk murah, merknya “CABERG”, terkenal cukup bagus koq. Walau masih agak sempit. Gua membelinya dengan harga Rp. 160.000,- gua tawar dari Rp. 180.000,-. Gua memilih half-face karena biar bisa merokok. Hehe..

Yang ajaib adalah, dengan cover yang gelap, gua masih bisa melihat dalam gelap dan saat terang, tidak silau. Walaupun malam, sinar lampu mobil dari arah berlawanan tercover dengan baik, sementara gelapnya malam tidak mengganggu pengelihatan ketika face-cover nya ditutup. Hehe…

Ibu-ibunya baik! Gua dikasih teh dari Surabaya gitu. Rasanya aneh. Tapi unik. Gua kasih juga buat Ignas yang lagi super rusak, badmood. Gua pikir teh akan memperbaiki kondisinya.

Gua mengucapkan terimakasih banyak buat helm lama gua karena telah begitu banyak berkorban dan berjasa buat gua, tuannya ini. Elo gak bakal gua buang! Hehehe… Buat manusia yang setiap hari berada di motor dan selama 4,5 tahun tuh helm nempel terus di kepalanya sekaligus melindunginya, helm itu akan seperti kepala dan nyawanya sendiri. Tapi bagaimanapun kesan harus diperhatikan.

Malam Mellouw

Kami meluncur dari Pasar Cimanggis menuju rumah Ignas, Kompleks Lebak Bulus Indah. Sempat beristirahat dan merokok sebentar, lalu gua pulang.

Malam itu adalah malam yang (saat ini gua pikir) tragis buat gua. Gua stress, depresi, kehilangan sandaran kepala. Tapi disisi lain gua lelah. Gua sudah lelah menahan emosi gua. Tampaknya gua tau bahwa emosi gua labil, satu-satunya orang yang (sanggup) gua hubungi malam itu cuman Eka.

  1. Sender : +62899877****
    Sent : 02 Oct – 01:07:52
    Tidak memungkinkan ya loe pulang tahun ini…
    Banyak yg mau gw ceritain..
    Gw, udah gak punya keluarga lg disini..
  2. Sender : +6285643558***
    Sent : 31 Oct – 22:30:01
    *akhirnya , sampe kos juga!*
    Gw pulang koq desember ini. Sapa bilang lo ga punyasapa2; dari sebelom elo (*kita) kena permasalahan tingkat rumit ginipun elo udah punya temen2, keluarga. Dan itu ga berubah sampe skrg..
    Jadi, walopun emg rasanya berat, dijamin lo ga sendirian…
  3. Sender : +62899877****
    Sent : 31 Oct – 22:38:08
    Sekarang siapa yg di sebelah gw, bisa gw peluk kalo gw galau, gw ajak ngobrol kalo gw kesepian, ngesupport gw kalo gw down kecuali satu orang itu. Kalo gua bermasalah sama dia? Lalu? Matilah.
    Semalem, nangis 5 menit di pelukannya. Terus dia bilang, hari ini gw gak boleh nangis.
    Hari ini gw nggak nangis di depannya.
    Gw masih butuh dia, kalian, siapapun itu..
    —> *
    buat pihak-pihak yang merasa tersindir atau tidak diperhatikan atau tidak dianggep, mohon maaf, ini omongan orang galau parah*
  4. Sender : +6285643558***
    Sent : 01 Nov– 00:01:25
    Nangis juga gpp. Wajar kok.. Yg penting dipikirin  gimana ngatasinnya biar ga kepikiran terus. Atau mungkin pelan2 nanti berkurang sendiri? Atau tetep gitu terus? Gw ga tau, tp yg jelas -percaya ga percaya- ITU bukan segalanya..
  5. Sender : +62899877****
    Sent : 01 Nov – 00:02:07
    Eka sayang gw?
  6. Sender : +6285643558***
    Sent : 01 Nov – 00:06:52
    Ya sayang lah, kan udah sering diomongin– kita temen, sodara. Sebelom ada romansa2an, setelah ada dan sampe gak ada romansa2an. temen tetep selamanya.
  7. Sender : +62899877****
    Sent : 01 Nov – 00:11:18
    Makasih, ya… Sangat membantu gw nguatin gw skrg.
    Eka, gw seneng, elo udah bisa (jauh lebih) peduli sama orang. Nggak secuek dulu..
    Elo jangan hilang ya..
  8. Sender : +6285643558***
    Sent : 01 Nov – 00:17:33
    Sama2, kan saling. Romansapun yang emang bisa jungkir-balikin idup (bisa bikin seneeng bgt, bisa bikin pengen mati), tapi yg namanya pertemanan ga ada gantinya. Kyk semua org, gw belajar di sekolah Hidup. Gurunya waktu sm pengalaman. Gratis tapi mahal.. -_-“
  9. Sender : +62899877****
    Sent : 01 Nov – 00:25:09
    Skrg, gw gak pengen bisa menikmati waktu. Gw gak pengen lagi bisa merasakan perasaan. Gw takut semuanya itu pergi.
    Gw pingin motong pita video kisah idup gw sampe sini, terus mutarnya berulang2 dr awal sampe gw bosan
    Kepergiannya kayak ngembaliin gw ke kehidupan nyata SIALAN yang berantakan. Semuanya.
    Orang itu, yg mungkin malah manggul beban gw lebih berat, terus dimutasi?! Gw gimana? Gw sanggup? Gw takut.. Gw takut nerusin idup.. Bkn cuma krn dia, tp siapa skrg yg bs mbantu gw. Gw takut..
  10. Sender : +6285643558***
    Sent : 01 Nov – 00:40:39
    Nah! Sayangnya waktu ga terima rikues.. Klo gw sering nghayal cob bisa bikin system restore point kyk di windows. Tapi faktanya ga mungkin, dia ga mau tau lo capek atau nggak, takut atau nggak.. Lampiasin aja dulu rasa stuck lo, berlibur dr kenyataan. besok atau lusa atau kpn baru loe hadapin lg..
  11. Sender : +62899877****
    Sent : 01 Nov — 00:44:21
    …sama siapa? Pacar gw skrg? Dari dulu, biasanya sama dia gw bersandar, dia bisa membuang penat gw..
  12. Sender : +6285643558***
    Sent : 01 Nov – 00:50:12
    Kan lo punya temen! Dan yg lebih penting, lo punya DIRI LO SENDIRI. Lo bisa idup sampe skrg. itu bukti bhw lo cukup kuat & cukup berharga untuk idup. Walopun tanpa orang-orang itu, past lo bisa. Banyak yg dukung elo, koq.
  13. Sender : +62899877****
    Sent : 01 Nov – 01:01:58
    *edited*
    Kalo semuanya punya masalah. Termasuk sama orang yang baru pergi itu. Bahkan mungkin kali ini lebih. Jd mereka gak bs gw ganggu. Yg bs gw raih, skrg cm elo.

Eka tak membalas lagi. Tidur tampaknya. Ada juga messages yang gua tulis di FB, yang gua sedih banget : Dia pergi ke’sana’ dengan masalah sama Masdidid.

Dia yang selalu merindukan adiknya

Between Eghaa Nindyaa and You
Radian ‘Jawa’ Kanugroho November 1 at 1:06am
Gha,
aku mikir berkali-kali untuk memposting ini.
Dia, selalu merindukan adiknya.
Gua pernah baca ini sebelumnya, dan kali ini, elo harus membacanya.
1. http://didz.wordpress.com/
2. http://didzhy.blog.friendster.com/
3. http://curahrasa.blogspot.com/2007/10/menatap-pancaran-kembang-api-di-angkasa.html

kau salah… Kau, tidak pernah hilang dari dirinya. Hari ini gua menangis, bukan karena kau pergi, gua bisa mengejar kau kalo kau pergi dariku, tapi karena dia menangisi dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Dia tidak pernah melepas adiknya dari dirinya.

Kami semua disini sangat sayang sama kau.
Lain kali, perlakukan kami sehangat kau memperlakukan kami dulu, sebelum kau pergi dari tempat kami.

Gua selalu pingin ngomong sama elo. Gua gak pernah kehabisan kata-kata kalo ngomong sama elo. Gua pingin nanti tetap gua gak kehabisan kata-kata ketika ngomong sama elo lagi.

Kita saling mengerti perasaan ya Gha. Gua sangat membutuhkan elo dan jangan pernah berfikiran gua tidak butuh elo. Sekali lagi, gua sangat butuh elo, berada disini. Kayak dulu waktu elo bilang, “Gua juga sayang sama Jawa” dan menelpon atau SMS gua setiap malam.

Elo (dan Ignas serta Aci) punya posisi yang sama. Masih inget janji gua, kataloe juga, “Elo lebih penting dari pacar!”. Walau kami tidak lebih penting dari cita-citaloe. Dan gua setuju.🙂

Makasih.

Akhirnya tulisan ini dapat selesai ditulis setelah 5 jam proses penulisan.

Makasih…

, , , , , , , ,

  1. Twitter Trackbacks for Hari Terakhir Yang Ia Beri « Andi Pancaran Media [siandiandi.wordpress.com] on Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: