Eksistensi & Pengakuan

Sudah bosan sebenernya gua pribadi mikirin ini. Mikirin hal yang membuat gua cocok di suatu tempat atas ekistensi dan keberadaan gua. Gua pribadi butuh, tapi sekarang udah nggak peduli atas tanggapan orang.

Sejak kemarin, 15 Desember 2009 hingga hari ini, 16 Desember 2009, subuh hingga pagi gua melihat dua sahabat terdekat gua yang tampaknya mempertanyakan ekistensi dan pengakuan mereka, baik oleh disi sendiri maupun orang lain. Kadang gua mempertanyakan, kenapa mereka mempertanyakan. Seperti apa yang mereka mau? Lalu posisi gua siapa buat mereka? Sebaliknya, kenapa mereka nggak mengakui bahwa gua mengakui mereka? Apa cara gua salah?

Malah gua malah jadi berfikir sebaliknya, sebenernya gua ini diakui nggak sih? Persetan sama kata sombong. Tapi banyak orang bilang, “Jawa yang eksis” katanya. Nyatanya, gua pribadi tidak merasa seperti itu. Apa gua ternyata membuat orang lain memperhatikan gua sepihak? Dan apakah gua kembali memperhatikan mereka?

Masalahnya, ketika gua jatuh, apakah mereka menolong, atau hanya mengkerubuti untuk menonton gua yang jatuh dan berdarah-darah? Atau gua mau semua orang memperhatikan dan menyayangi gua, sehingga ketika gua jatuh, semua orang mengerubuti gua dan heboh desak-desakan dan berebut untuk menolong gua? Hahaha..

Kenal dan dikenal serta diakui banyak orang boleh. Tak salah dan tak penting juga menurut gua. Apakah gua mencari itu? Sedikit cerita di masa SMP, gua seseorang yang nggak pernah dianggep. Gua cuma ada. Punya catatan di dafar siswa. Tapi (merasa) tidak diakui oleh teman-teman. Jangankan seperti itu, jika gua bicara ada yang mau mendengarkan gua? Paling jawaban standarnya, “Apaan sih loe?!” Hehe, biasa. Sampai akhirnya, gua membuat sebuah karya yang mendorong nama gua dan membuat nama gua diingat oleh lembaga itu di penghujung tahun ajaran gua di SMP. Hal itu juga dialami oleh sahabat gua sendiri.

Berbeda dengan pengalaman 2 orang teman gua yang lain, dimana dia merasa lebih menyenangkan sewaktu SMP. Artinya eksistensi serta pengakuan yang mereka dapat ada di masa SMP. Tidak ada yang salah. Sebagian besar orang pasti pernah mengalaminya.

Eksistensi : Peran

Tak ayal gua dan teman-teman yang memproduksi sebuah film video independen yang kala itu belum tenar dan kami memasukkannya ke FFII. Sebuah prestasi yang luar biasa bagi seorang anak berumur 15 tahun. Gua orang yang punya pengaruh sangat besar di film tersebut. Mulai dari cerita, alat, sutradara, kameramen bahkan sampai orang yang berhubungan dengan teman-teman satu sekolah ketika kita harus memasarkan dan menjual film tersebut. Disitu nama seorang “Andi” atau “Jawa” atau juga “BiawaX” dikenal di SMP. Teman-teman berdatangan dengan senyum. Sebelumnya? Jangan harap.

Masa SMA adalah masa jaya dari seorang Radian “Jawa” Kanugroho ini. Dimulai dengan mampu memegang kamera BETACAM SP saat demo ekstra kurikuler saat baru masuk, kemudian gabung ke komunitas film dan mulai kenal serta berbaur dengan teman-teman dari angkatan atas. Belum lagi ditambah tentang istilah manusia berlensa yang selalu memegang kamera dimanapun gua berada maupun di event apapun. Hanya gua yang dipercaya, tidak yang lain. Jika dokumentasi dan video, dikala pasti “Jawa”. Ya nggak?! Pembuatan video tahunanpun gua salah satu bagian yang menjadi pelopornya. Bagaimana orang tidak tahu. Siapa yang tidak kenal gua? Temu Tujuh Kolese yang mengangkat nama gua ke ketujuh kolese tersebut, bahkan 4 tahun kemudian nama gua masih dibawa-bawa, disebut-sebut, “Wah! Kalo tidak ada Jawa mah Tekol tidak ada apa-apanya!” di dalam rapat petinggi tekol 2008.

Oke contoh lain. Ada seorang teman SMA yang sejak setelah masuk 4 hari nongkrong di depan, membaur bersama kakak-kakak kelas lain. Menarik perhatian tidak?! Seiring perkembangannya, dia banyak melibatkan diri dalam berbagai hal, berusaha terlihat sebagai salah satu bagiannya. Bahkan sampai menangkap dan memukuli seorang penipu yang merupakan alumni SMA kami. Entah itu dengan tujuan mencari eksistensi atau memang dia hobi sibuk. Tapi apapun itu, ia akan tampak di barisan depan.

Semakin banyak dia gerak, dan semakin banyak dia menyentuh banyak bidang dalam sebuah masyarakat, apalagi (tampak) berguna, pastinya diketahui dan eksis dalam sebuah masyarakat.

Pengakuan : Hasil & Prestasi

Ada 3 orang dalam sebuah klub foto SMA yang sampai sekarang sangat gua perhatikan dan posisi gua adalah sebagai pengajar. Tapi ada seorang gadis manis yang tidak gua perhatikan. Seorang ‘Jawa’ yang (menurut dia) begitu eksisnya ini tidak mengakui keberadaannya, tidak peduli. Kenapa? Boleh jika gua bicara,”apa yang menonjol darimu di bidang ini?! Apa yang membuat gua harus melirikmu?”

Siapa orang-orang di sekeliling orang-orang berikut yang tidak kenal dengan ia : Eka sebagai orang tidak sedarah yang paling bertanggungjawab membentuk gua sampai sekarang, Aci sebagai laki-laki-nya dan kemampuannya memimpin serta berbicara. Sando dengan ganteng (ini serius), tanggung jawab serta karya multimedianya, Ignas dengan gayanya yang nyentrik serta kemampuannya menyutradarai film, Moko dengan pikiran, gaya bicara serta kenyentrikannya juga, Rio dengan ketua OSISnya di jaman SMA, Erica dengan supersibuknya dan perempuan multitalent-nya  dan lain-lain sebagainya.

Mereka semua tidak akan menjadi apa-apa tanpa hasil yang mereka buat sebenernya. Pegangan mereka adalah hasil. Oke, sekarang gua. Begitu pindah ke masyarakat lain, gua hadir tanpa mau menciptakan sebuah inovasi, hasil serta prestasi. Siapa yang kemudian kenal gua? Ada? Sedikit. Ya, sedikit.

Alhasil kesimpulannya bahwa hasil dan prestasi bukan dilihat dari bagaimana kita berbicara, tapi bagaimana kita bisa membawa diri kita ke depan dengan hasil dan prestasi, bersaha berdesak-desakan diantara usaha manusia lain untuk menjadi yang terdepan. Ketika sudah menjadi yang terdepan, maka akan mudah.

Pun Ignas sekarang harus berdesak-desakan berkejar-kejaran untuk menggapai impiannya sebagai sutradara diantara sutradara-sutradara muda lainnya yang harus tumbuh, walaupun sekarang gua merasa semangatnya untuk berdesakan tersebut menurun drastis. Entah faktor apa yang menyebabkan. Tak usah jauh-jauh, gua yang berusaha untuk beresak-desakan dengan seorang Sando dan Arman untuk tidak kalah dengan mereka dalam hal shooting dan pasca produksi?!

Caper, Cari Muka

Caper. Cari Perhatian.
Setiap orang butuh ini tidak? Butuh. Siapa sih orang-orang terpandang yang tadinya tidak mencari muka? Ada? Ooh iya, tolong jangan didefinisikan negatif ya ‘caper’ disini. Konotasinya memang negatif, tapi tidak berarti caper berdefinisi negatif.

Jangan salahkan orang lain tidak memperhatikanloe jika elo tidak mencari perhatian. Duduk di pojok belakang sambil menunggu seseorang yang datang lalu memberikan tangannya untuk mengajak bangun. Ada. Gua pernah mendatanginya sambil menyulurkan tangan gua, tapi ternyata gua bukan orang pilihannya kan?! Nggak papa. pilihan itu wajar, lalu gua pergi dan dari kejauhan melihat kembali orang itu tetap duduk menunggu entah siapa yang harus datang untuk membangunkan dia.

Ada berbagai macam cara orang mencari muka terhadap orang lain, individu, kelompok, maupun massa. Ada yang lewat infotainment, ada yang annoyed dateng ke orang yang di tuju lalu sok sok ngomong, ada yang lewat speaker, ada juga yang lewat media massa dan duduk sebagai orang yang istilahnya elit politik itu kan?!

Oke yang bilang gua begitu eksisnya itu, siapa itu.. Ya, kamu! Kamu pengen hanya duduk dan menunggu orang (atau orang-orang) datang kepadamu tanpa berbuat apa-apa? Pertanyaan balik, aku yang katamu eksis ini, apa aku tidak mencari muka dengan orang-orang? Mencari! Dan ketika kamu harus datang kepadaku karena dikenalkan orang lain apakah berarti itu salah? Dan ketika gua berbalik mencari muka kepadamu karena sebuah proses perkenalan itu salah?

Ada orang yang duduk terbujur di pinggir tiang luar Bandara waktu itu. Menundukkan muka, badannya dipegang terasa kaku. Dia menunggu sebuah pengakuan dari orang yang sudah dia anggap adeknya. Pun gua mengulurkan tangan gua tidak mempan. Bukan gua orang yang ditunggunya. Bukan gua sasaran cari perhatiannya. Mungkin di dalam kepalanya terbayang, nanti adeknya akan datang di sampingnya, jongkok awalnya memegang pundaknya dan memeluknya. Dia pengen adeknya menjemputnya. Sementara orang yang disebut adeknya tersebut, tetap bertahan bandara dan ketika diingatkan dia bilang dengan suara lantang, “Gua yang mau pergi! Dia yang seharusnya kemari!”. Ya, pihak adeknya ini juga meminta pengakuan dari sang kakak. Jawaban sokotnya mungkin.. Si kakak minta, “Berikan aku waktu 30 (atau sekian) menit di Bandara…” dan adeknya bilang “Ya.” tapi tenang aja, adekmu memang nggak bisa njaga janji jangka panjang.

Sebuah pembicaraan yang selalu diulang-ulang era 2 hingga 3 tahun lalu adalah pencarian jati diri oleh seorang teman dekat gua. “Siapa gua?” katanya. “Gua bukan siapa-siapa. Orang lain tidak menganggap gua.” Kata-kata yang sampai 2 tahun lalu masih terkoar-koar sampai akhirnya dia lulus dan memegang sebuah komit tentang siapa dia. Dialog tadi subuh gua bicarakan dengannya tadi sore. Di restoran padang, ditemani dengan nasi dan ayam pop (gua doank) dan 4 gelas es teh manis dia bilang, “Inget nggak, apa yang elo ceritain tentang perkataan orang pentingloe itu sebenernya ada dalam pikiran gua dulu?” kata beliau. “Elo pernah kan pasti?!” Ya, gua pernah. Setelah masa SMA berakhir, selesai pula masa jaya pengakuan dan eksistensi gua dalam sebuah komunitas dan masyarakat. Untuk mengangkatnya lagi perlu usaha yang saangat tinggi. Begitu?

Padahal coba bayangkan, atau yang sudah pernah merasakan, rasakanlah. Apa yang kalian mau, diperhatikan 100.000 orang, atau disayangi oleh 2 atau 3 orang yang juga elo sayangi? Pilih. Ketika elo sudah menarik perhatian 100.000 orang, apa kiranya elo akan balik memandang mereka satu per satu. Apalagi jika elo sudah memiliki 2 atau 3 kesayangan tersebut?

TweetMellouw

“twiiiit” bunyi dari tweetdeck gua mengganggu ketenangan dari kegiatan berkomputer gua, sore hari tanggal 15 Desember 2009. Berunut-runut, 4 hingga 5 kali berisi Tweet Mellow dari satu orang sahabat yang juga sangat penting buat gua.

Kadang gua sedih. Bisakah gua membantunya? Woow! Dia sahabat gua sudah sejak 4,5 tahun lalu! Kadang gua butuh dia kalo gua sedang sendiri. Tapi buat dia, seberapa penting ya gua sehingga gua gak bisa membantunya? Mungkin memang ada kalanya gua sendiri.

Introvertkah elo? Tidak supelkah elo? Hihi.. Bung, kenalan, channel dan kehangatan yang dibangga-banggakan adekmu itu apa? Gua punya apa? Lebih introvert siapa? Atau elo hanya sedikit bicara dan gua banyak bicara? Apa hanya itu indikasi untuk dibilang introvert? Seberapa banyak film-loe yang ‘laku’ di pasaran, menang disana sini, masuk nominasi sana-sini. Gua iri koq. Walau kadang gua ragu, takut, untuk seberapa besar kerelaanloe untuk gua mengakui bahwa film-film tersebut hasil karya ‘kami’, bukan elo.

Elo kemana? Gua tunggu-tunggu kerjasama kita lagi. Gua kangen kita bikin film lagi, masukin festival dan ngeliat elo bicara di depan, menerima penghargaan. Gak peduli hanya elo yang menerima dan maju, di shoot sama kamera stasiun TV dan disiarkan ke seluruh negeri, tokh gua udah nganggep elo bagian dari gua juga. Ikhlas gua bangga. Panggil gua kapanpun elo mau buat. Gua akan usahakan setengah mati buat jalan yang dari dulu kita impi-impikan itu kan?! Karena di bidang ini, apalagi bareng elo, gua cuma bisa duduk, menunggu SMS, email, wall facebook atau PM di facebook atau apapun itu yang bilang, “Wa! Gua punya ide! Ayo kita shooting!” kayak dulu lagi. Ya, gua masih nunggu dan masih siap, walaupun tiap kali gua tanya jawabannya hanya “Keadaan yang tidak memungkinkan” dan pasti elo bilang “enggak, gua gak bilang kayak gitu” karena kalimatnya berbeda.

Dialog

Sangat sedih ketika gua harus ‘mendengar’ ini..

Dia : gw suka diremehin,,apalagi gak dianggep. tau knp skrg lo bisa deket bgt sm gw? krn dulu lo gak anggep gw.. jawa,,org seeksis itu digonz,,ga mau ngelirik gw,,padahal gw satu kelompok fotografi. trs gw kenal nina..deketin elo sm naz sekalian.. dulu lo boleh ngata2in,,ejek gw,,tapi itu semua akan berkebalikan,,gw buat elo bangga dan muji2 gw… gitu juga dg dia wa.. bukan mau nyama2in.. tapi gw gak suka diremehkan.. dia gak pernah mandang gw dr dulu.. gw gak terobsesi untuk memiliki dya wa.. yg gw pengen cuma,,dya “mandang” gw. dan menyesal krn selama ini ngeremehin dan ga mau kenal gw.. itu aja.. semakin gw lyat dia,,semakin gw pgn nunjukin ke dya kalo gw hebat,,dan itu memotivasi gw untuk selalu lebih baik lebih baik dan lebih baik

Gua : alesanloe tentang dia bisa gua terima, sebatas kalimat dan gua mengerti. cuma kalimatloe yang pertama juga cukup bikin gua nangis di depan komputer. hehe

Dia : yaa emang gt kok keadaannya..dulu… tapi sekarang gw bisa membuktikan sesuatu untuk diri gw..

Gua : Ternyata elo… Jujur ya non.. Merasa kurang pengakuan ya?

Dia : iya,,masih,,bgt,,soalnya gw blm sukses,, dan semua org butuh pengakuan kan?termasuk lo juga pasti..

Gua : Iya. Elo gak tau ya berarti? bahwa dari dulu elo tidak kelihatan. pun elo satu kelompok fotografi sama gua, coba jawab pertanyaan gua, kenapa elo tidak kelihatan. Kenapa Erica, Agus, Anom langsung gua sabet begitu aja dan kelihatan🙂
Yap. Prestasi Non! Daripada ngomongin diakui lah, sukses lah, gua tanya lagi : mana? apa prestasiloe? Pun misalnya elo punya badan sexy, dada besar misalnya. Tau. Orang2 lain juga pada tau. Tapi bukan itu indikasi loe diakui. Dan lagi, seandainya gua tau elo itu seorang yang bisa nenangin gua kayak sekarang dari dulu, gua akan kejar elo Non dari dulu buat jadi temen gua. Tapi, gimana gua mau tau kalo elo bisa jadi orang kesayangan gua kalo elo gak nunjukkin apa yang loe punya..

Cukup banyak pengeditan, dan kata yang gua sembunyikan dan edit gua beri tanda merah.
Gua sangat menerima alasan kawan dekat gua tadi malam ketika makan di restoran padang itu. Kau saatnya mencari jati diri, sesuai umur. Mungkin kata2 gua itu nanti akan loe jadikan senjata, “Lho kan loe sendiri bilang bahwa gua berfikir seperti ini karena umur gua..” hehe.. Tapi percayalah, suatu hari eksistensi itu akan membuat elo jenuh. Suatu hari elo pengen sendirian, kayak yang pernah elo bilang di bulan Maret lalu. Elo pengen sendiri, pengen bergerak. Wah! Padahal pengen pengakuan katanya sekarang, Mana ada eksistensi dan pengakuan tanpa menjaga sesuatu. Eksis itu repot.

Pun gua sekarang mencari eksistensi atas apa yang gua lakukan, apa yang gua buat, apa yang gua karyakan. Bukan atas diri gua. Gua gak mau eksis hingga ke WC atau coli di ekspose ke massa. Gua lebih seneng mengumpet di belakang layar dan melihat para penonton bertepuk tangan atas hasil karya gua atau nanti melihat di jalan, produk *apa ya?* tupperware buatan perusahaan gua digunakan dimana-mana.

Sikap

Tapi dari kesemuanya, apa yang paling menentukan?
Sikap menurut gua. Pun seorang Presiden menangis, atau SBY yang marah-marah ngalor ngidul ketika JW Marriot dan Ritz Calton di bom, apa dia mendapat apresiasi dari masyarakat? Ada juga dia mendapat pandangan buruk dari masyarakat. Pandangan.

Ketika gua marah-marah sama elo, apa elo bisa terima, apa pandangan gua baik.
Ketika elo tidak bisa gua percaya, tidak bisa orang lain percaya karena sikaploe ke gua, atau ke 3 orang lain, atau ke 10, 100, atau 1000 orang lain, apa elo tetep bisa dipercaya?

Ketika seorang ibu Theresa memutuskan untuk membantu orang-orang terlantar di India, dia bisa dipandang karena dia meminta?

Saya? (= Gua?)

Gua tidak kepengen menjadi objek perhatian lebih dari 100 orang. Gua hanya minta disayang kepada beberapa orang yang bener-bener memilih gua untuk dia sayang, dia perhatikan dan dia akui tentang gua.

Sisanya biarkan ratusan, ribuan, ratusan ribu, jutaan atau milyaran orang lain itu duduk tenang di bioskop atau dimanapun dan mengakui hasil karya gua, atau membaca hasil tulisan gua di blog, atau media massa nasional mungkin, dan orang-orang mengakui hasil karya gua. Tidak untuk memperhatikan diri gua.

Biarkan gua duduk tenang sendiri disini, bercanda, tersenyum, tertawa dan menangis bersama dengan orang-orang (kelompok orang) pilihan gua yang bener-bener gua sayang dan menyayangi gua.

Karena ketika elo bilang, “gw bukan manusia baja…gw sayang elo jawa..” atau mendengar dari sahabat gua “Terus, kapan kita sukses bareng? Bikin film kita sampai ke layar lebar?” sudah cukup mewakili ke-eksisan yang dimaksud dari semua tulisan yang puaaanjang diatas.

Oke, sekian dulu.

——————————

Buat sahabat-sahabat gua.
Semuanya.

, , , , , , , ,

  1. #1 by ciho ganteng on 17 Desember 2009 - 09:31

    kayak yorint yg tajir lgs gw sambet jadi temen biar hidup makmur bergelimpangan kekayaan…tapi kenyataan berkata beda yorint ternyata kikir…hahahaha….

    • #2 by Penulis on 18 Desember 2009 - 01:01

      Khusus untuk Yorint, gak usah mencari perhatian, nggak usah nyari eksistensi, pengakuan, bahkan : UANG juga dia udah jadi perhatian publik se alam semesta. Gila dia mah. Gua rasa sampai dia sendiri bingung, tiap malam tidur di kasur, bangun-bangun kasurnya sudah bersepraikan duit USD$100, plus lantai-lantainya.. Selidik punya selidik, ternyata itu pemberian dari Sokhi…

  2. #3 by ericson tarigan on 12 Mei 2010 - 13:40

    wah ini topiknya berat banget, kira-kira beneran ga ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: